Buka konten ini

BATAM (BP) – Indonesia mengerahkan 30 kapal untuk mensimulasikan penanganan insiden laut dalam pembukaan National Marine Pollution Exercise (National Marpolex) 2025 di Batam. Kegiatan ini adalah operasi besar yang menjadi barometer kesiapsiagaan nasional menghadapi darurat maritim.
Latihan gabungan yang digelar di Pelabuhan Bintang 99 Persada, Batuampar, Selasa (18/11), ini menjadi ajang uji koordinasi dan respons seluruh unsur maritim dalam menghadapi berbagai skenario insiden, mulai dari tabrakan kapal, kebakaran, korban jatuh ke laut, hingga tumpahan minyak.
Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Laut menggerakkan sejumlah kekuatan dari pusat hingga daerah untuk memastikan skenario penanganan darurat berjalan sesuai standar operasi internasional.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Hubla, Hendri Ginting, mengatakan, Marpolex merupakan komitmen pemerintah dalam menjaga keamanan dan keselamatan maritim, terlebih Batam yang merupakan salah satu gerbang ekonomi penting di Indonesia.
“Mulai dari skenario kebakaran kapal tanker dan kapal motor, korban jatuh ke laut, hingga tumpahan minyak—semua unsur sudah disiapkan untuk menjalankan peran masing-masing,” kata Hendri.
Hendri menuturkan, latihan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan pengujian serius terhadap kemampuan tiap instansi dalam memberikan respons awal yang cepat dan terkoordinasi. Respons awal yang efektif, katanya, menjadi faktor kunci dalam meminimalkan pencemaran dan kerugian.
Rangkaian latihan turut melibatkan unsur pencarian dan pertolongan (SAR), pemadaman kebakaran laut, serta operasi penanganan pencemaran oleh tim oil spill response. Semua fase skenario diuji terintegrasi agar setiap personel memahami alur komando, teknik kerja, dan mekanisme lapangan.
Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, yang hadir dalam pembukaan kegiatan, menyampaikan apresiasinya dan menilai latihan ini sangat strategis. Menurutnya, Kepri berada di jalur sibuk Selat Malaka dan Selat Singapura, dua rute pelayaran internasional tersibuk di dunia.
Ia mengatakan, potensi ancaman tumpahan minyak biasanya meningkat pada periode September hingga Februari karena perubahan kondisi angin dan arus. Karena itu, kesiapsiagaan mutlak diperlukan.
“Kita berharap tidak ada kejadian, tetapi antisipasi harus diutamakan. Kita siap payung sebelum hujan,” ucap Nyanyang.
Nyanyang menyatakan, pentingnya koordinasi lintas instansi, termasuk dengan otoritas negara tetangga seperti Singapura, mengingat kedekatan wilayah dan kepadatan lalu lintas kapal. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mempercepat respons bila insiden terjadi.
Pemprov Kepri, katanya, siap mendukung seluruh penguatan kapasitas dan peningkatan kemampuan maritim melalui kegiatan seperti Marpolex. Latihan ini menjadi momentum untuk memastikan unsur pusat dan daerah bergerak dalam satu komando dan satu arah kebijakan.
Dengan dimulainya Marpolex 2025 di Batam, Indonesia menegaskan kembali komitmennya menjaga keselamatan laut, memperkuat kesiapsiagaan nasional, serta melindungi jalur pelayaran internasional dari ancaman insiden maritim. (*)
Reporter : EUSEBIUS SARA
Editor : FISKA JUANDA