Buka konten ini

TOKYO (BP) – Ekonomi Jepang mencatat penurunan untuk pertama kalinya dalam enam kuartal pada periode Juli–September 2025. Produk domestik bruto (PDB) Negeri Matahari Terbit terkontraksi 1,8 persen secara tahunan, dipicu melemahnya ekspor akibat tarif tinggi Amerika Serikat serta konsumsi rumah tangga yang ikut melambat.
Angka tersebut masih lebih baik dibandingkan proyeksi para ekonom yang memperkirakan penyusutan 2,5 persen. Karena itu, sejumlah analis menilai pelemahan kali ini bersifat sementara. “Kontraksi ini terutama dipengaruhi oleh turunnya investasi perumahan,” kata ekonom Meiji Yasuda Research Institute, Kazutaka Maeda, dikutip dari Reuters, kemarin (17/11).
Ia menambahkan bahwa ekspor juga tertekan. Secara keseluruhan, perekonomian Jepang belum memiliki kekuatan fundamental yang kokoh, namun tren jangka menengah menunjukkan peluang pemulihan perlahan dalam satu hingga dua tahun mendatang.
Ekspor menjadi penyumbang kontraksi terbesar. Kenaikan tarif dasar di AS—hingga 27,5 persen untuk mobil dan 25 persen untuk sejumlah produk Jepang lainnya—membuat pengiriman kendaraan ke Negeri Paman Sam anjlok. Banyak produsen terpaksa menurunkan harga demi menyerap beban tarif, sehingga margin keuntungan semakin tergerus.
Dari sisi domestik, konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB hanya tumbuh tipis 0,1 persen, dan turun 0,4 persen dibanding kuartal II. Kenaikan harga bahan pangan membuat belanja masyarakat lebih hati-hati. Sebaliknya, belanja modal menjadi faktor penahan kontraksi. Investasi perusahaan (capex) naik 1 persen. “Konsumsi rumah tangga sudah meningkat enam kuartal beruntun, dan belanja modal tumbuh empat kuartal berturut-turut. Ini menguatkan keyakinan bahwa ekonomi Jepang masih berada dalam jalur pemulihan yang moderat,” ujar Menteri Revitalisasi Ekonomi, Minoru Kiuchi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO