Buka konten ini

Anambas (BP) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau turun langsung ke Pulau Jemaja, Kabupaten Anambas, untuk memberikan layanan penukaran uang lusuh.
Kegiatan ini dipusatkan di Pasar Letung, Kecamatan Jemaja, yang menjadi salah satu titik aktivitas ekonomi masyarakat.
Kehadiran BI di Jemaja mendapat sambutan hangat dari warga. Sejak pagi, masyarakat terlihat antusias menukarkan uang yang sudah tidak layak edar dengan uang baru yang disediakan petugas.
“Saya tukar uang baru, pecahan kecil Rp2 juta. Kita susah jualan kalau tak ada uang kecil,” ujar warga Letung, Ropi Kahardi, Minggu (16/11).
Menurut Ropi, usahanya sebagai pedagang kerap terkendala karena sulitnya mendapatkan uang pecahan kecil. Kondisi itu membuat transaksi menjadi tidak fleksibel.
“Kadang kita malah cari pecahan kecil ke pedagang lain. Soalnya yang belanja di tempat kami tu pakai uang pecahan besar,” sambung Ropi.
Ia mengaku pernah mencoba menukarkan uang ke bank. Namun, stok uang kecil di bank sering kali terbatas sehingga kebutuhannya tidak terpenuhi.
“Kami merasa terbantu dengan adanya layanan dari Bank Indonesia. Kalau perlu setiap bulan lah petugas BI datang ke kami untuk tukarkan uang,” harapnya.
Di lokasi yang sama, Asisten Penyelia Perkasan Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Panca Gunawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tugas BI sebagai bank sentral dalam menyediakan uang kartal yang layak edar.
Menurut Panca, BI berkewajiban memastikan masyarakat mendapatkan uang dengan nominal yang cukup, pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi layak edar.
Hal ini penting untuk menjaga kelancaran sistem pembayaran.
“Aksi ini salah satu wujud nyata Bank Indonesia hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan uang kecil dalam mendukung roda perekonomian,” ujar Panca.
Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan penelusuran tim BI, uang logam pecahan Rp1.000 dan Rp500 jarang digunakan masyarakat Jemaja.
Padahal, penggunaan uang logam memiliki manfaat besar untuk menjaga akurasi harga.
“Kalau masyarakat tidak menggunakan uang logam, bisa saja harga barang dibulatkan pedagang menjadi kelipatan Rp1.000,” jelasnya.
Panca menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak menolak penggunaan uang logam.
Uang logam tetap bagian dari alat pembayaran resmi yang perlu digunakan sebagaimana mestinya.
Untuk kegiatan di Jemaja kali ini, BI membawa uang baru sebanyak Rp500 juta. Seluruhnya habis ditukarkan kepada masyarakat dalam satu hari.
“Alhamdulillah, habis semua berkat antusias masyarakat,” tutup Panca Gunawan. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY