Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Harga telur ayam ras di Kota Batam belum menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Di sejumlah pasar tradisional, harga bertahan tinggi di kisaran Rp58 ribu hingga Rp65 ribu per papan.
Kondisi ini kuat diduga dipengaruhi lonjakan permintaan nasional, terutama sejak bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.
Program tersebut meningkatkan konsumsi telur di seluruh Indonesia, sementara Batam hanya mampu memenuhi sekitar 10–20 persen kebutuhan harian dari produksi lokal. Selebihnya masih bergantung pada pasokan dari Medan dan daerah lain.
Di Pasar Tos 3000 Jodoh, harga telur dijual Rp58 ribu per papan. Suryati, pedagang setempat, mengatakan harga tinggi ini terjadi sejak dua bulan terakhir karena pasokan dari distributor datang dengan harga yang sudah mahal. “Harga telur tak turun-turun. Kami ikut harga dari agen,” ujarnya.
Kondisi serupa terjadi di Pasar SP Plaza Batuaji, dengan harga bergerak antara Rp60 ribu hingga Rp62 ribu. Hendra, pedagang yang berjualan di sana, mengungkapkan penjualan tetap ramai, tetapi margin keuntungan mereka justru tidak besar. “Ambilnya mahal, jualnya juga harus ikut. Pembeli juga bilang semua tempat naik, bukan di sini saja,” ucapnya.
Sementara itu, harga tertinggi tercatat di Pasar Botania Batamcenter. Telur ukuran besar dijual hingga Rp65 ribu per papan. Menurut pedagang, Nurhayati, telur ukuran jumbo paling cepat habis. “Yang besar-besar cepat habis. Yang ukuran kecil sedikit lebih murah, itu dari Medan,” katanya.
Berbeda dengan pasar tradisional, ritel modern grosiran justru mematok harga lebih rendah, stabil di angka Rp55 ribu per papan.
Namun di minimarket modern yang tersebar di setiap kawasan, harga telur bisa menembus hampir Rp75 ribu per papan, atau sekitar Rp24.800 untuk kemasan isi 10 butir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis, memastikan tingginya harga telur saat ini bukan lagi dipengaruhi biaya pakan. Menurutnya, pemasok besar dari luar daerah memegang kendali penuh terhadap rantai produksi.
“Sekarang pakan sudah stabil. Tapi mereka punya pakan, bibit, dan obat sendiri. Jadi harga memang ditentukan dari hulu. Kita di Batam hanya memelihara,” jelasnya.
Ia menyebut pemerintah tengah menyiapkan rencana untuk mengambil alih pengelolaan hulu, mulai dari pembangunan kandang hingga penyediaan bibit dan pakan. “Nanti pemerintah bangun kandangnya, bibitnya, pakannya. Peternak tinggal pelihara. Itu yang kami dorong supaya harga lebih stabil,” kata Mardanis.
Menepis dugaan bahwa pedagang mengambil untung besar, Mardanis menilai harga di tingkat pasar masih wajar.
“Kalau agen jual Rp56 ribu, pedagang jual Rp58 ribu itu wajar. Yang kadang main lebih tinggi justru ritel,” tegasnya.
Ia menambahkan, kenaikan konsumsi menjelang Natal dan Tahun Baru juga turut memicu kenaikan harga. “Biasanya naik 10–20 persen. Ini pola tahunan,” ujarnya.
Pemerintah Kota Batam berencana menggelar operasi pasar untuk komoditas telur, minyak goreng, dan cabai. Namun pelaksanaannya membutuhkan anggaran besar. “Kalau keliling itu butuh minyak, mobil, tenaga. Anggarannya belum disetujui. Kalau nanti disetujui, kita buat paket telur murah, minyak murah, cabai murah, tapi tidak keliling,” jelasnya.
Mardanis mengimbau masyarakat agar tidak panik membeli. Menurutnya, perilaku panic buying justru mempercepat kenaikan harga.
“Jangan panik. Kalau panik beli, harganya makin naik. Ini hukum pasar,” tegasnya.
Saat ini sekitar 80 persen pasokan telur Batam berasal dari Medan, sedangkan peternak lokal di Barelang hanya mampu menyumbang 20 persen. Pemerintah sedang mengkaji kemungkinan membuka pasokan dari daerah lain untuk menstabilkan harga. “Kalau bisa ambil dari daerah lain, harga bisa lebih bersaing. Kami sedang mempelajarinya,” kata Mardanis.
Kenaikan harga telur diperkirakan masih berlangsung selama permintaan tinggi dan pasokan nasional terbatas. (***)
Reporter : Yashinta
Editor : GALIH ADI SAPUTRO