Buka konten ini

DI rumah saya, ada beberapa tumbuhan yang ditanam. Ada betek (Carica Papaya), jambu bal (Syzygium Malaccense), matoa (Pometia Pinnata), delima batu (Punica Granatum), delima serikaya (Anona Squamosa), dan mangga apel (Mangifera Indica). Tumbuhan ini sejatinya merupakan tumbuhan yang memiliki banyak manfaat. Kami bisa menikmati buahnya bila sudah berbuah. Hanya saja untuk sekian jenis tumbuhan yang ditanam itu, baru betek, delima batu, delima serikaya, dan jambu bal saja yang berbuah. Untuk matoa dan mangga apel belum berbuah. Mungkin belum waktunya untuk berbuah. Masih menunggu hitungan tahun baru memberikan rezeki berbuah.
Namun, itu kan realitas. Bagaimana pula dengan imaji saja?
Sayangnya antara imaji dan realitas, untuk kondisi yang sudah serba digital dewasa ini, menyulitkan kita untuk berdiri. Realitas terlihat seperti imaji. Sementara imaji, kadang-kadang juga ada yang sama dengan realitas maka jangan heran bila sekumpulan orang malah mendapati perspektif ilusi secara kolektif, sesuai dengan selera pencarian digital. Semua tergantung siapa yang menggunakan mata.
Ya, seseorang yang menggunakan mata melihat ke sekitar maka dialah yang menerjemahkan pemandangan tertangkap itu ke realitas imaji karya sastra. Bukan mengapa, kita akan sulit membentang imaji sastra tanpa ada landasan realitas. Malah dua hal tersebut, telah banyak menarik perhatian para penulis sastra di seluruh dunia.
Orhan Pamuk, misalnya, dengan indah menulis novel berbahan bakar salju. Pramoedya Ananta Toer, gagah perkasa mengekstraksi dunia penjajahan di tanah air sambil menampar banyak pipi bahwa manusia yang masih berlutut di depan orang lain, melambangkan betapa sisi kemanusiaan telah hilang di muka bumi ini. Serta Lesley Downer, menjadikan cengkerama dengan dunia lama di Jepang menarik untuk ditulis sehingga lahirlah novel The Last Concubine yang terkenal itu.
“Gambaran yang paling melekat dalam ingatan Sachi- saat mengenang kampung halamannya bertahun-tahun kemudian- adalah pohon-pohon pinus tinggi yang berbaris di sepanjang tepi jalan; langit melengkung yang terlihat begitu dekat seakan-akan bisa disentuh; gunung-gunung pucat berkilauan yang terlihat sangat jauh.” (Downer, 2008)
Ada juga:
“Kelapa tumbuh di pinggir pantai bukan layak memagar tebing lagi, melainkan lumat sudah dihantam ombak berpuluh-puluh tahun membahana di situ. Akar-akarnya tidak sanggup menyirat pasir pantai, putus-rentas sudah, dan terseret bersama kikisan gelombang berzaman-zaman.” (B.M. Syam, 1991)
Lantas, di mana posisi pengarang? Bila hanya memainkan sisi realitas saja sambil membalutnya dengan bumbu imaji, itu sama saja dengan menjual betek yang sudah masak ke pembeli. Sementara, nilai tambah dari realitas dalam konteks sastra digital yang imaji, yang saat ini tak dapat dihindari, terasa seperti bertembung: antara kolosal realitas dengan imaji bermasam muka.
Misalnya, mengapa pula B.M. Syam memilih cengkih? Atau Laksana Natuna-nya Idrus M. Tahar juga memilih cengkih? Ada apa dengan cengkih?
“Harumnya cengkihmu laksana kasturi
Panas minyak dan gasmu laksana hanguskan tubuhmu.”
Tak dapat disangka-sangka lagi, memang. Kita ini, terjerat kaki. Mari kita balikkan dari realitas-imaji menjadi imaji-realitas. Hasilnya, “perspektif yang mempertemukan ilusi dengan realitas ini kemudian mengindikasikan lahirnya situasi post. Situasi seperti ini kemudian memungkinkan karya sastra mampu membuat penikmatnya perlu memilih pengalaman mana yang bisa dianggapnya realitas dan mana yang akhirnya hanya berakhir sebagai ilusi.”
Cengkih bukan imaji. Cengkih adalah batang hidup. Cengkih adalah hajat hidup bagi orang di Pulau Tujuh. Cengkih adalah gaya. Cengkih adalah semangat. Serta, cengkih adalah kesenjangan. Terakhir, cengkih adalah konflik. Semuanya berkecambah menjadi lumut-lumut memori generasi tua dalam menjalani hari-hari tersisa.
Hanya generasi tua yang mengerti betapa sumbangan cengkih terhadap kehidupan keluarga, ada dan terasa begitu dahsyat. Dari cengkih, banyak orang tua bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Melalui cengkih, dibukalah jalan oleh Allah untuk membeli beras dalam jumlah yang besar. Caranya melalui buah cengkih dijual ke pembeli yang senantiasa menampung hasil panen penduduk.
Hal ini, banyak terdapat di daerah-daerah yang memiliki hasil perkebunan cengkih. Seperti di Natuna misalnya, cengkih merasuk ke mana-mana. Bahkan bukan hanya bagi orang tua yang awam dengan sastra. Bagi mereka-mereka yang bertungkus-lumus membasahkan diri dengan karya sastra berupa cerpen, sajak, ataupun novel, tak sanggup untuk melepas cengkeraman realitas sosial di sekitar dalam guratan pena. Padahal, untuk melepaskan cengkeraman tersebut, kadang-kadang tak juga sulit. Tergantung dari pengarang apakah mau melepaskan diri atau tidak.
Inilah persoalan mendasar bagi sastrawan di daerah kita sekarang. Realitas sosial terlanjur menjadi pengait utama pada proses menulis karya. Apa-apa yang ada di bawah kaki, ujung telunjuk, tepi telinga, masuk semua ke dalam sajak. Tak peduli apakah yang berbau laut (gelombang, karang, ikan, nelayan, pompong, jaring dan lain sebagainya), gunung (kebun, cengkih, air sungai, batu cadas, dan, banyak lagi). Serta, banyak culas-culas lainnya di tepi rumah masuk ke dalam cerpen.
Lantas, apakah salah bila pengarang tak kuasa melepaskan diri dari kondisi sosial yang ada? Jangan-jangan apa yang diingatkan oleh Pramoedya Ananta Toer benar adanya. “Kekeliruan ini banyak sekali berasal dari asal sosial pengarang bersangkutan, yang masih membebaninya dengan buntut-buntut yang dibawanya dari asal sosialnya, sedang didikan ideologinya pun belum kuat atau belum teratur.”
Namun, tak mengapa. Dengan menyimak secara serius hasil karya B.M. Syam dan Idrus M. Tahar, paling tidak banyak pihak mengerti dan memaklumi bahwa asal pengarang berdua ini kental dengan nuansa kampung yang sederhana.
Mata ini pun tak dapat melepaskan dari pandangan yang ada di teras samping rumah, yaitu betek, jambu bal, matoa, delima batu, delima serikaya, dan mangga apel. (***)