Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Indonesia dan Jepang semakin memantapkan kerja sama dalam pengembangan teknologi otomotif rendah emisi. Langkah itu mengemuka dalam penyelenggaraan The 6th Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan The 1st Biofuel Co-Creation Task Force Meeting yang berlangsung di Jakarta, Kamis (13/11).
Forum tersebut menjadi ruang strategis bagi kedua negara untuk memperdalam sinergi pengembangan teknologi otomotif masa depan, mulai dari elektrifikasi hingga bahan bakar nabati. Pada kesempatan itu juga dibahas kerja sama teknis dalam Biofuel Co-Creation Task Force antara METI, JAMA, dan Kementerian ESDM.
Fokus utamanya antara lain pengujian dan standardisasi bahan bakar E10 dan B50, serta rencana produksi etanol dan hydrotreated vegetable oil (HVO) mulai 2027. “Kegiatan forum strategis ini mendukung percepatan transisi menuju mobilitas rendah karbon melalui pendekatan multiple pathways,” ujar Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), Setia Diarta, menegaskan komitmen pemerintah dalam pengembangan energi bersih. “Komitmen ini didukung penuh melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV),” imbuhnya.
Kembangkan Mesin Fleksibel
Program tersebut mencakup pengembangan berbagai teknologi, termasuk mesin fleksibel yang dapat menggunakan biofuel. “Kami berharap inisiatif-inisiatif ke depan dapat memberikan dampak nyata di seluruh rantai industri,” tambah Setia.
Dari sektor energi, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan perkembangan program biofuel. “Saat ini pemerintah melaksanakan berbagai program biofuel seperti biodiesel, bioetanol, bioavtur/SAF, dan green diesel atau HVO,” terangnya.
Implementasi E10 pada 2028
Pemerintah juga menargetkan implementasi E10 pada 2028. “Keberhasilan implementasinya perlu dukungan seluruh pemangku kepentingan,” imbuhnya.
Dari pihak Jepang, Director General of Manufacturing Industries Bureau METI, Tanaka Kazushige, menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai basis produksi otomotif Asia.
“Kami percaya bahwa kombinasi antara kekayaan sumber daya bioenergi Indonesia dan keunggulan teknologi Jepang akan membawa masa depan otomotif yang lebih cerah,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO