Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) kembali mencatat kinerja kuat pada triwulan III 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri tumbuh 7,48 persen (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,14 persen.
Secara kumulatif sejak awal tahun hingga September 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 6,60 persen. Capaian ini menegaskan posisi Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatra, dengan kontribusi 7,07 persen terhadap total PDRB Sumatra. Angka tersebut jauh di atas rata-rata pertumbuhan wilayah Sumatra yang berada pada 4,90 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto, menyebut penguatan ekonomi terutama ditopang sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan. Industri pengolahan tumbuh 6,82 persen seiring meningkatnya aktivitas produksi pasca kepastian kebijakan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat.
“Pertambangan tumbuh cukup tinggi, mencapai 19,83 persen, seiring berlanjutnya produksi dari dua sumur migas baru di Natuna,” kata Rony.
Sementara sektor konstruksi tumbuh 5,71 persen didorong proyek strategis di berbagai kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri (KI).
Sektor perdagangan naik 5,54 persen, seiring meningkatnya aktivitas MICE dan pariwisata.
Sektor keuangan juga tercatat menguat. Penyaluran kredit tumbuh 20,61 persen, Dana Pihak Ketiga naik 14,06 persen, dan total aset perbankan meningkat 13,14 persen.
Pembiayaan korporasi naik 26,37 persen, sementara pembiayaan UMKM bertumbuh 12,96 persen.
Digitalisasi transaksi turut mendorong kegiatan ekonomi. Penggunaan QRIS terus meningkat. Hingga September 2025, jumlah transaksinya mencapai 54,94 juta, naik 181,93 persen (yoy), dengan nilai mencapai Rp7,71 triliun atau tumbuh 140,62 persen. Transaksi lintas negara dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura juga meningkat signifikan.
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi Kepri tetap terkendali. Pada Oktober 2025, inflasi tercatat 0,36 persen (mtm), turun dari 0,64 persen pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi berada di 3,01 persen.
Kelompok perawatan pribadi menjadi penyumbang kenaikan terbesar akibat naiknya harga emas perhiasan. Sementara kelompok makanan justru mengalami deflasi 0,18 persen.
Rony mengatakan. perekonomian Kepri masih memiliki ruang untuk tumbuh hingga akhir tahun, ditopang pengembangan KEK, kawasan industri, proyek strategis nasional, serta peningkatan mobilitas masyarakat. Koordinasi juga terus diperkuat melalui TP2ED guna menjaga momentum pertumbuhan.
Di sisi lain, pengendalian inflasi difokuskan melalui TPID, khususnya pada komoditas cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan cabai merah besar. Program GNPIP terus diperkuat dengan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Dengan pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang terjaga, Kepri dinilai berada di jalur positif memasuki akhir 2025. (*)
Reporter : M. SYABAN
Editor : FISKA JUANDA