Buka konten ini

Konsep Re.Uniqlo Studio, khususnya repair, sejalan dengan seni tradisional Jepang: kintsugi. Pakaian yang rusak atau sobek diperbaiki dengan pola tertentu sehingga bisa digunakan kembali dalam jangka waktu yang lama.
SEMUA tahu Jepang negara maju. Tapi, kemajuan itu tak lantas membuat Negeri Matahari Terbit tersebut meninggalkan budaya.
Salah satu contoh kemajuan yang tetap bergandengan tangan dengan tradisi itu disaksikan langsung saat koran ini melawat ke Jepang untuk memenuhi undangan eksklusif Uniqlo pada 19–23 Oktober bersama sejumlah media dari negara-negara Asia Tenggara.
Bagaimana praktik sustainability (keberlanjutan) diterapkan perusahaan ritel pakaian global yang berpusat di Tokyo tersebut.
Sudah lebih dari 20 tahun mereka mengambil berbagai langkah penting menuju fashion keberlanjutan. Salah satunya saat menghadirkan Re.Uniqlo pada 2020, yang kemudian berkembang menjadi Re.Uniqlo Studio pada 2022.
Lewat program tersebut, Uniqlo menawarkan empat layanan: repair, remake, reuse, dan recycle. Per 24 Oktober 2025, Re.Uniqlo Studio memiliki 66 toko yang tersebar di 23 negara dan region, termasuk Indonesia.
Konsep Re.Uniqlo Studio adalah mewujudkan ekonomi sirkular dengan mendorong pelanggan agar menggunakan pakaian jauh lebih lama.
Misalnya, ketika pakaian rusak, bisa diperbaiki dan di-upgrade agar tampak lebih personal serta seperti baru lagi melalui layanan remake embroidery atau teknik sashiko.
Koji Yanai, group senior executive officer Fast Retailing Co Ltd, perusahaan induk Uniqlo, mengatakan bahwa ini semua tentang tugas sederhana dan universal untuk merespons permintaan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menyadari bahwa definisi pakaian bagus telah melampaui kualitas, harga, dan desain serta mencakup proses produksi yang aman dan terjamin.
”Ini merupakan topik yang menarik bagi kita sekaligus menjadi motivasi,” katanya.
Menurut dia, perusahaan tidak lagi menjadi penentu keberlanjutan. Saat ini pelanggan memiliki lebih banyak informasi. ”Kini, ketika hak untuk menggunakan kembali dan memperbaiki (pakaian) mulai menarik perhatian, segala sesuatunya bergerak cepat dalam masa transisi yang sesungguhnya,” paparnya.
Ragam Layanan
Untuk repair, pihaknya memberikan layanan seperti perbaikan lubang dan robekan pada kaus dan pakaian rajut, perbaikan celana jins yang robek, menjahit kancing pada kemeja, serta menambal robekan pada jaket bulu. Layanan yang ditawarkan di toko-toko tertentu adalah teknik bordir tradisional Jepang yang dikenal sebagai sashiko.
Benang warna-warni dijahit dengan pola geometris, menggunakan garis putus-putus, bentuk kisi-kisi, dan bentuk silang untuk menciptakan karya yang unik. Konsep itu dinilai sesuai dengan kultur di Jepang.
Ya, sebagai negara maju, Jepang tetap memegang erat budaya seperti wabi sabi dan kintsugi. Wabi sabi adalah seni menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan. Sementara kintsugi merupakan seni memperbaiki tembikar yang rusak.
Sejalan dengan konsep wabi sabi, kintsugi tidak menghilangkan bekas pecahan, melainkan justru menonjolkannya. Dalam buku Wabi Sabi, Beth Kempton menjelaskan bahwa filosofi itu memungkinkan seseorang menerima kesederhanaan sepenuh hati dan menghargai apa yang telah mereka miliki.
”Rahasia wabi sabi adalah melihat dunia bukan dengan pikiran logis, melainkan melalui hati yang bisa merasa,” kata perempuan yang pernah bertahun-tahun tinggal dan bekerja di Jepang itu.
Keindahan dari Ketidaksempurnaan
Ketidaksempurnaan justru menghadirkan keindahan. Itu pula yang dirasakan saat ikut workshop kintsugi di Kyoto yang berjarak ratusan kilometer dari Tokyo.
Namanya Kintsugi Kobo kulukulu. Prosesnya diawali dengan mengumpulkan pecahan mangkuk, lalu direkatkan menggunakan urushi (vernis Jepang). Setelah itu, diwarnai dengan bubuk logam mulia dan dibiarkan kering. Mangkuk pun bisa dipakai kembali dengan tetap membiarkan (kalau bukan menonjolkan) bekas retakan yang sudah dipercantik.
Yulia Rachmawati, corporate PR and sustainability manager Uniqlo Indonesia, menyatakan bahwa konsep Re.Uniqlo Studio, khususnya repair, memang sejalan dengan seni tradisional kintsugi. Pakaian-pakaian yang rusak atau sobek diperbaiki dengan pola tertentu.
Di Jepang, banyak yang melakukan perbaikan produk down jacket (jaket tebal yang diisi bulu angsa atau bebek). Sementara di Indonesia, kata Yulia, lebih banyak perbaikan produk jins.
Indonesia sendiri sudah memiliki tiga Re.Uniqlo Studio. Masing-masing berlokasi di La Piazza Kelapa Gading, Grand Indonesia, dan Senayan City. ”Permintaan bordir yang banyak adalah binatang seperti kucing dan anjing,” katanya.
Menurut Yulia, tahun lalu Indonesia menempati peringkat tertinggi ketiga dalam hal repair setelah Prancis dan Italia. ”Program ini menjadi wujud komitmen Uniqlo untuk memperpanjang umur pakaian sekaligus mengurangi limbah tekstil melalui konsep sirkular,” ujarnya. (***)
Reporter : ACHMAD SANTOSO
Editor : RYAN AGUNG