Buka konten ini
TANJUNGPINANG (BP) – Sebanyak 300 bayi bawah lima tahun (balita) di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tercatat masih mengalami stunting sepanjang tahun 2025. Data ini diperoleh dari hasil pendataan langsung di posyandu-posyandu yang tersebar di seluruh wilayah Kota Tanjungpinang.
Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanjungpinang menilai angka tersebut masih tergolong relatif baik dibandingkan rata-rata nasional.
“Tahun ini tercatat ada 300 kasus balita stunting. Angka ini menunjukkan kondisi gizi anak di Tanjungpinang cukup baik,” ujar Kepala Dinkes Tanjungpinang, Rustam, Kamis (30/10).
Rustam menjelaskan, pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting di ibu kota Provinsi Kepri itu. Salah satunya dengan memastikan kesehatan dan kesiapan gizi calon pengantin sebelum menikah, agar tubuh dalam kondisi optimal menjelang kehamilan.
Selain itu, ibu hamil juga diimbau rutin menjalani pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa mengandung. Setelah bayi lahir, pertumbuhannya dipantau secara berkala melalui kegiatan posyandu.
“Proses pencegahan sudah dimulai sejak remaja, calon pengantin, hingga masa kehamilan dan setelah bayi lahir,” tambah Rustam.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa upaya penurunan stunting tidak hanya bergantung pada aspek kesehatan semata. Faktor pendukung seperti akses air bersih, sanitasi yang baik, lingkungan layak huni, dan ketersediaan jamban sehat juga memiliki peran besar dalam menjaga tumbuh kembang anak.
“Faktor non-kesehatan ini sangat penting dalam menunjang pencegahan stunting, termasuk ketersediaan pangan di rumah tangga serta pola asuh yang baik dari orang tua,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara sektor kesehatan dan lingkungan, Pemkot Tanjungpinang berharap angka stunting dapat terus ditekan hingga mencapai target nasional penurunan prevalensi stunting secara berkelanjutan. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GALIH ADI SAPUTRO