Buka konten ini

BERLIN (BP) – Kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth element/REE) oleh Tiongkok yang diberlakukan per 8 November nanti menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan produsen mobil.
Logam tanah jarang merupakan komponen penting dalam kendaraan modern yang pasokannya sangat bergantung pada Tiongkok.
Konsultan AlixPartners mencatat, Tiongkok menguasai sekitar 70 persen aktivitas penambangan, 85 persen kapasitas pemurnian, dan hampir 90 persen produksi paduan logam serta magnet dunia. Ketergantungan itu membuat industri otomotif berada dalam posisi rawan.
”Kami hampir kehabisan stok dan hanya memiliki persediaan terbatas,” kata Nadine Rajner, direktur utama perusahaan pemasok bubuk logam asal Jerman, NMD, kepada Reuters.
Rajner menambahkan, meski negara seperti Swedia memiliki sumber daya logam tanah jarang, mereka belum memiliki kapasitas tambang atau fasilitas pemurnian yang memadai.
Waktu pengiriman logam tanah jarang dari Tiongkok ke Eropa kini dapat mencapai 45 hari. Kondisi ini diperburuk oleh stok yang menipis akibat pembatasan sebelumnya sehingga mendorong banyak perusahaan mulai menimbun bahan baku.
”Kami memperkirakan industri otomotif akan melakukan penimbunan besar-besaran menjelang tenggat waktu,” kata Bruno Gahery, presiden Bosch untuk kawasan Prancis dan Eropa Barat.
Sebagai langkah mitigasi, sejumlah produsen besar seperti General Motors, BMW Group, Renault, serta pemasok komponen ZF Friedrichshafen dan BorgWarner mengembangkan motor listrik dengan kandungan logam tanah jarang yang lebih sedikit, bahkan tanpa unsur tersebut. Meski menjanjikan, teknologi ini masih memerlukan waktu beberapa tahun sebelum bisa diproduksi massal. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO