Buka konten ini

AMERIKA Serikat (AS) tidak hanya getol memperingatkan Hamas agar menjaga situasi. Mereka juga mengarahkan perhatian serius kepada Israel. Tujuannya jelas, memastikan perdamaian di Gaza bisa tercapai tanpa gangguan.
Kali ini AS dengan tegas meminta Israel untuk tidak mencaplok Tepi Barat, Palestina. Menurut mereka, upaya itu bisa mengacaukan upaya gencatan senjata. Peringatan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menanggapi keputusan Parlemen Israel pada 22 Oktober lalu.
Dalam pertemuan itu, parlemen setuju mengajukan dua undang-undang aneksasi terkait dengan pendudukan di Tepi Barat. Keputusan itu muncul hanya sepekan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan bersama untuk perdamaian di Gaza.
“Tepi Barat adalah wilayah Palestina. Pencaplokan akan mengganggu rencana perdamaian di Gaza. Presiden Trump sudah jelas soal ini,’’ tegas Rubio, Kamis (23/10) sebelum berangkat ke Israel.
Rubio juga menyuarakan keprihatinan atas laporan kekerasan oleh ekstremis Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Menurut dia, tindakan itu tidak hanya memperburuk situasi, tetapi juga mengancam stabilitas yang tengah diupayakan. ’’Kami prihatin atas kondisi tersebut. Kami ingin situasi tetap kondusif untuk perdamaian,’’ ujarnya.
Optimistis
Meski tantangan terus bermunculan setiap hari, AS tetap optimistis perdamaian di Gaza bisa terwujud melalui kesepakatan antara Hamas dan Israel.
Sebelumnya, Trump juga berkali-kali meminta Hamas untuk menghentikan kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap warga sipil di Gaza. Langkah tersebut dianggap penting agar upaya perdamaian tidak terganggu.
Peringatan AS kepada Israel tersebut menunjukkan betapa rumitnya dinamika geopolitik di Timur Tengah. Pencaplokan Tepi Barat berpotensi memicu ketegangan baru. Tidak hanya dengan Palestina, tetapi juga dengan komunitas internasional.
Di sisi lain, fokus pada perdamaian Gaza menuntut kerja sama semua pihak. AS berupaya menjaga keseimbangan: mendorong perdamaian di Gaza sambil mencegah langkah yang bisa memperkeruh situasi. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : MOHAMMAD TAHANG