Buka konten ini

YERUSALEM (BP) – Personel tentara yang terlibat dalam mengawal gencatan senjata di Gaza bertambah. Setelah Amerika Serikat (AS) mengirim 200 tentara untuk bergabung dalam Pasukan Stabilitas Internasional atau ISF (11/10), Inggris mengirim personelnya, Rabu (22/10).
Akan tetapi, pasukan yang dikirim Inggris hanya terdiri seorang perwira dengan jabatan wakil komandan berpangkat bintang dua dan kompi kecil.
Selain disebut karena memenuhi permintaan AS, pengiriman militer Inggris terkesan hanya formalitas.
Klaim Beri Peran Signifikan
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, mengklaim, mereka yang dikirim memiliki keterampilan dan pengalaman khusus untuk mewujudkan perdamaian di Gaza.
”Kami tidak berharap menjadi yang terdepan, mengambil peran sebagai pemimpin secara kelembagaan di gugus tugas, tetapi akan memberikan peran yang signifikan,” ungkapnya seperti dilansir dari Sky News.
Dalam dua dekade pertama abad ini, militer Inggris telah membangun pengalaman yang luas dalam pengembangan kapasitas pasukan keamanan seperti di Irak dan Afghanistan.
Para pejabat Inggris juga telah bekerja di Tepi Barat sejak 2006 untuk membantu melatih polisi Palestina. Itulah yang jadi alasan Komando Pusat AS (Centcom) meminta partisipasi militer Negeri Britania Raya.
Peringatan untuk Hamas
Pengerahan pasukan Inggris ini dilakukan setelah kunjungan Wakil Presiden AS, JD Vance, ke Israel pada Selasa (21/10). Vance mengatakan, implementasi gencatan senjata Gaza berjalan lebih baik dari yang diharapkan. Vance juga memperingatkan bahwa jika Hamas tidak bekerja sama, maka Hamas akan hancur.
Hal itu dipertegas oleh Presiden AS, Donald Trump. Dia menyampaikan sekutu AS di Timur Tengah siap menghantam Hamas jika tidak mendukung upaya perdamaian atau gencatan senjata di Gaza.
”Banyak dari sekutu-sekutu hebat kita di Timur Tengah dan wilayah di sekitar Timur Tengah memberitahu saya bahwa mereka akan menyambut baik kesempatan, atas permintaan saya, untuk memasuki Gaza dengan kekuatan besar dan melawan Hamas. Itu jika Hamas terus bertindak buruk,” unggah Trump dalam pernyataan di media sosial Truth Social miliknya.
Gencatan senjata di Gaza sudah berjalan sejak 10 Oktober lalu. Namun, dalam pelaksanaannya masih ada letupan-letupan. Penyerahan sandera dari Hamas juga kerap menemui halangan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO