Buka konten ini

LEDAKAN itu tiba-tiba menghentak dari perut Kapal Super Tanker Federal II yang tengah dalam perbaikan di galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batam, Rabu (15/10) dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB. Suara dentuman itu dalam sekejap berubah menjadi nyala api memenuhi lambung kapal, disusul teriakan histeris para pekerja yang berlarian mencari jalan keluar dari kepungan panas.

Itu adalah ledakan kedua yang terjadi di kapal yang sama. Hanya berselang empat bulan dari ledakan pertama, 24 Juni lalu. Bedanya, ledakan pertama menewaskan empat pekerja dan lima lainnya luka-luka, sementara ledakan kedua menewaskan 10 pekerja dan melukai 21 lainnya. Rata-rata kondisinya kritis.
Dua ledakan di kapal yang sama dalam 4 bulan dengan korban tewas 14 orang (bisa bertambah, red) menimbulkan kesan, nyawa pekerja di galangan itu dianggap remeh.
Meski dua orang telah ditetapkan sebagai tersangka, namun pihak galangan tetap saja abai, tidak mengambil pelajaran berharga di ledakan pertama.
Sejumlah pekerja yang selamat dari ledakan kedua ini bercerita, kobaran api muncul dari dek bawah—ruang yang beberapa hari terakhir menjadi titik perbaikan intensif. Di sanalah para pekerja tengah melakukan pengelasan dan pemotongan besi. Kapal itu belum sepenuhnya bersih dari sisa bahan bakar, dan saat bara api las menyentuh uap yang mengendap, petaka pun lahir.
Sepuluh nyawa melayang dalam sekejap. Dua puluh satu orang lainnya kini berjuang menahan rasa sakit di ruang perawatan empat rumah sakit berbeda. Di RS Elisabeth, beberapa korban masih dalam kondisi kritis dengan luka bakar hampir di seluruh tubuh. Di RSUD Embung Fatimah, keluarga korban silih berganti datang dengan wajah pucat menunggu kabar dari ruang gawat darurat.
PT ASL Shipyard dikenal sebagai salah satu galangan terbesar di Batam. Ribuan tenaga kerja menggantungkan hidup di sana, sebagian dipekerjakan oleh subkontraktor tanpa perlindungan kerja yang memadai. Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lokasi itu disebut banyak pihak masih jauh dari ideal. Pengawasan longgar, prosedur keselamatan diabaikan, dan kejar target proyek kerap dijadikan alasan menyingkirkan protokol keamanan.
Kesan abai dan meremehkan nyawa pekerja juga menjadi perhatian Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Melalui Kepala Biro Umum BP Batam, Mohamad Taofan, menyampaikan rasa prihatin dan duka mendalam atas peristiwa nahas itu. Saat ini pihaknya tengah mengumpulkan informasi kecelakaan kerja tersebut dan tidak menutup kemungkinan akan turun langsung ke lapangan.
BP Batam juga berjanji akan melakukan pengawasan ketat terhadap unit terkait untuk meminimalkan kemungkinan terulangnya kejadian serupa. Selain pengawasan, izin perusahaan juga disorot, bahkan ada kemungkinan PT ASL bakal ditutup.

“Kami turut berduka sedalam-dalamnya dan prihatin atas kejadian yang menimpa pekerja galangan di PT ASL. Kami juga akan memperketat persyaratan perizinan. Segala sesuatu harus sesuai aturan. Kalau terjadi seperti ini, kami akan lihat dulu regulasinya, dan penutupan perusahaan tidak tertutup kemungkinan,” ujar Taofan.
Kepala Disnakertrans Kepri, Diky Wijaya, menegaskan bahwa tragedi ini bukan sekadar kecelakaan kerja biasa, melainkan bencana industri besar. Ia memastikan akan menurunkan tim pengawas untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap sistem K3 di galangan tersebut.
“Kami akan periksa seluruh dokumen izin kerja, prosedur keselamatan, serta tanggung jawab perusahaan utama maupun subkon-nya,” kata Diky.
Menurutnya, kejadian berulang di kapal yang sama dalam waktu hanya empat bulan jelas menunjukkan lemahnya pengawasan dan disiplin keselamatan.
“Kalau pengawasan mereka kuat, kejadian seperti ini tidak akan terulang di tempat dan kapal yang sama,” katanya.
Ia mendesak agar PT ASL tidak lagi beroperasi sebelum seluruh aspek K3 diperbaiki dan disetujui instansi terkait.
“Kami tidak ingin ada korban ketiga kalinya. Harus ada sanksi tegas. Ini soal nyawa manusia,” tegasnya.
Menurut Diky, fakta dua insiden mematikan di perusahaan yang sama dan di kapal yang sama sudah cukup menjadi bukti bahwa sistem keselamatan di sana “tidak jelas”. Pemerintah tidak lagi ingin mendengar alasan kelalaian subkontraktor.
“Sekarang kami tidak mau lagi menyalahkan subkon. Manajemen utama perusahaan harus bertanggung jawab penuh,” tegas Diky.
Ia memastikan, selain penyelidikan hukum, pemerintah akan mengawasi pemenuhan hak-hak pekerja, termasuk jaminan ketenagakerjaan dan santunan bagi keluarga korban.
Koordinasi dengan BPJS Ketenagakerjaan Batam sudah dilakukan untuk mempercepat proses klaim jaminan kematian dan perawatan medis.
Ketua DPRD Batam, Muhammad Kamaluddin, menyebut kejadian berulang itu sebagai sinyal bahaya serius. DPRD akan melakukan inspeksi lapangan dan memastikan penyebab ledakan diusut hingga tuntas.
“Harus ada tanggapan serius dari pemerintah dan penegak hukum. Kalau ada kesalahan, harus ada hukuman,” katanya.
Nada serupa disampaikan Sekretaris Komisi I DPRD Batam, Muhammad Mustofa. Ia menyebut tragedi ini sebagai “catatan kelam” bagi Batam.
“Beberapa bulan lalu sudah meledak, sekarang terjadi lagi di kapal yang sama. Ini memalukan bagi kita semua,” ujarnya.
Menurut Mustofa, dua insiden beruntun menunjukkan betapa rapuh sistem pengawasan keselamatan di kawasan industri tersebut. Ia juga menyoroti mentalitas pengusaha yang abai terhadap keselamatan kerja.
“Keteledoran manusia dikejar orang kapital demi keuntungan semata,” katanya.
Mustofa menegaskan, keselamatan pekerja bukan sekadar tanggung jawab perusahaan, tetapi juga ujian bagi pemerintah daerah dan BP Batam yang memegang izin usaha di kawasan industri itu.
Namun, rencana DPRD untuk inspeksi ke PT ASL terbentur rumitnya tata kelola kewenangan. Sejak berlakunya PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2024, izin pemanfaatan ruang laut dan darat—termasuk kawasan galangan kapal—berada di bawah kendali BP Batam. Dewan kota tak lagi punya taring penuh.
“Kami sekarang seperti harimau ompong,” ucap Mustofa singkat.
Korban Tewas Bisa Bertambah
Kapolresta Barelang, Kombes Zaenal Arifin, menyebutkan, data sementara yang dihimpun hingga Rabu (15/10) malam, sepuluh pekerja meninggal dunia dan 21 lainnya luka-luka. Mereka adalah tenaga kerja lokal yang sehari-hari bekerja di bawah subkontraktor proyek perbaikan kapal MT Federal II.
Ia juga menyebutkan tim gabungan dari kepolisian, Basarnas, dan Disnaker telah mengevakuasi seluruh korban.
“Kami sudah evakuasi semua korban dari lokasi. Ada yang meninggal di tempat, ada juga yang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,” ujarnya.
Para korban luka kini dirawat di empat rumah sakit berbeda: RS Elisabeth, RSUD Embung Fatimah, RS Budi Kemuliaan, dan RS Otorita Batam. Polisi juga telah memasang garis polisi di sekitar area ledakan dan menutup akses ke dalam kapal untuk penyelidikan lebih lanjut.
“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti ledakan. Dugaan sementara, ada sisa gas yang terperangkap di dalam tangki bahan bakar,” tambah Zaenal.
Suara ledakan itu terdengar hingga radius lebih dari satu kilometer. Warga sekitar galangan mengaku panik. Sejumlah video amatir yang beredar memperlihatkan api membumbung tinggi dan suara jeritan minta tolong dari arah dermaga.
Basarnas Batam melalui Kepala Operasi SAR, Eko Supriyanto, menyebut evakuasi berlangsung dramatis. Petugas harus menembus kepulan asap tebal dan suhu panas di dek bawah kapal.
“Kondisinya sangat berisiko. Beberapa korban ditemukan dalam posisi saling berpelukan di ruang sempit,” katanya dengan nada berat.
Pihak RS Elisabeth juga memastikan seluruh korban luka mendapat penanganan intensif. Dokter spesialis bedah dan perawatan luka bakar dikerahkan penuh. Beberapa korban harus menjalani tindakan darurat amputasi untuk menyelamatkan nyawa.
Di ruang tunggu rumah sakit, suasana duka menyelimuti. Tangis keluarga korban pecah saat mendengar nama-nama yang masuk daftar meninggal dunia. Sebagian dari mereka baru bekerja di galangan itu kurang dari dua bulan.
“Anak saya bilang, ini kerja sementara saja, untuk biaya sekolah adiknya,” tutur salah satu ibu korban sambil menahan isak.
Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Batam Nagoya, Iskandar, memastikan pihaknya siap menanggung seluruh biaya pengobatan dan santunan bagi ahli waris korban yang meninggal.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semua korban yang terdaftar akan kami layani tanpa syarat tambahan,” ucapnya.
Sementara itu, pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Internasional Batam, Taufik Hidayat, menilai tragedi berulang ini mencerminkan lemahnya tanggung jawab korporasi terhadap standar keselamatan.
“Ini bukan kecelakaan teknis semata, melainkan kegagalan sistemik dalam tata kelola industri,” ujarnya. (***)
Reporter : Arjuna – Eusebius Sara – Rengga Yuliandra
Editor : RYAN AGUNG