Buka konten ini

NILAI tukar rupiah melemah terhadap dolar Singapura (SGD) dan ringgit Malaysia (MYR) dalam sepekan terakhir. Pada 10 September, kurs rupiah tercatat Rp12.800–Rp12.830 per dolar Singapura dan Rp3.890–Rp3.920 per ringgit Malaysia. Angka itu naik menjadi Rp12.850–Rp12.880 per dolar Singapura dan Rp3.900–Rp3.930 per ringgit Malaysia pada 17 September.
Meski menekan daya beli di sisi impor, kondisi ini justru dinilai membawa berkah bagi perekonomian Kepulauan Riau (Kepri), terutama sektor pariwisata dan industri ekspor.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafky Rasid, mengatakan pelemahan rupiah membuat biaya berwisata di Kepri terasa lebih murah bagi warga Singapura dan Malaysia.
“Melemahnya rupiah akan mendorong kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia dan Singapura. Kurs mereka lebih kuat, sehingga ongkos berwisata dan belanja di sini terasa jauh lebih murah,” ujarnya, Rabu (17/9).
Menurut Rafky, momentum ini harus dimanfaatkan untuk menggencarkan promosi pariwisata. “Ketika mereka merasa semua serba murah di Batam dan Kepri, otomatis spending wisatawan meningkat. Dampaknya langsung ke hotel, restoran, pusat belanja, hingga UMKM,” tambahnya.
Selain pariwisata, industri ekspor Batam juga mendapat keuntungan. Produk yang dijual ke Singapura dan Malaysia menghasilkan margin lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.
“Industri ekspor pasti merasakan berkah. Nilai tambah muncul dari selisih kurs,” jelas Rafky.
Namun ia mengingatkan, pelemahan rupiah juga menimbulkan konsekuensi bagi perusahaan yang masih mengandalkan bahan baku impor.
“Kalau bahan baku banyak impor, tentu biaya produksi ikut naik. Strategi perusahaan harus pintar-pintar memanfaatkan momentum kurs ini,” katanya.
Penukaran Uang Didominasi Wisman
Dampak pelemahan rupiah juga terlihat di money changer kawasan Nagoya, Lubukbaja. Aktivitas penukaran uang pada hari kerja tampak sepi, bahkan beberapa toko tutup.
“Dolar (Singapura) dan ringgit naiknya sudah dari Minggu lalu. Tapi sejak Senin, penukaran sepi sekali,” kata Intan, karyawan money changer di Komplek Bumi Indah, Nagoya.
Ia menyebut, kondisi ini justru menguntungkan wisatawan Singapura dan Malaysia yang menukar uangnya ke rupiah. “Kalau akhir pekan malah ramai. Mereka senang, karena tukarnya tinggi,” ujarnya.
Selain wisatawan, warga yang lama menyimpan dolar dan ringgit juga ikut memanfaatkan situasi. “Untuk dolar sendiri, tukarnya ke rupiah hampir Rp13 ribu. Ada yang langsung menukar untuk ambil untung,” katanya.
Faktor Eksternal
Ketua Afiliasi Penukaran Valuta Asing (APVA) Kepri, Amat Tantoso, menjelaskan pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen global maupun isu dalam negeri.
“Rupiah tertekan dengan kabar revisi RUU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK) yang akan memperluas kewenangan DPR dalam mengawasi BI, OJK, dan LPS, termasuk hak mengevaluasi pejabatnya. Itu memengaruhi,” katanya.
Selain itu, rupiah juga tertekan terhadap dolar AS di tengah antisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang diperkirakan menahan BI Rate di level 5,00 persen, serta hasil Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting September yang diprediksi memangkas Fed Fund Rate (FFR) ke 4,25 persen. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra – Yofi Yuhendri
Editor : Muhammad Nur