Buka konten ini

Setelah memilih tenis seusai menyelesaikan kuliah Mei tahun lalu, Janice Tjen mengemas 101 kemenangan dan hanya 13 kali kalah serta mengantongi 13 gelar. Di mata sang pelatih, variasi pukulan jadi salah satu senjata andalan.
18 September 2024, Janice Tjen setengah waswas bertanding di lapangan tenis Jasdam IM, Banda Aceh. Bukan karena kekuatan lawan, tetapi karena pagar pembatas di sisi selatan terus-terusan bergoyang karena terkena hujan dan angin kencang. “Agak takut juga sih tadi, apalagi pagarnya sempat miring,” kata Janice yang berpasangan dengan Aldila Sutjiadi dan membela Jawa Timur seusai laga perempat final ganda putri tenis PON 2024, ketika itu.
Janice dan sejumlah petenis lain terpaksa bermain di sana karena lapangan utama di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, tidak memungkinkan menggelar pertandingan akibat hujan. Sedangkan panitia harus berkejaran dengan waktu. “Supaya tidak tertunda lagi, kami main juga kalau bisa secepat mungkin,” kata Janice yang merebut tiga medali di ajang yang berlangsung di Aceh dan Sumatera Utara tersebut.
27 Agustus 2025, dari lapangan yang bikin dia waswas tadi, sebelas bulan berselang, karier petenis kelahiran Jakarta 23 tahun lalu itu melompat tinggi. Dia berduel dengan jawara US Open atau AS Terbuka 2021 Emma Raducanu. Laga babak kedua itu dihelat di Louis Armstrong Stadium, New York, Amerika Serikat, sebuah court megah terbesar kedua US Open yang menampung belasan ribu penonton.
Meski akhirnya kalah 2–6, 1–6, Janice sudah menyamai rekor yang bertahan dua dekade lebih. Dia petenis tunggal Indonesia pertama dalam 21 tahun yang mampu menembus babak utama US Open setelah Angelique Widjaja pada 2004.
Keberhasilan mengalahkan Veronika Kudermetova di babak pertama (25/8) juga jadi kemenangan Grand Slam pertama atlet Indonesia sejak Angelique di Wimbledon 2003. Dari tujuh petenis putri Indonesia yang mampu menembus babak pertama AS Terbuka, lima di antaranya mampu lolos ke babak kedua.
Janice menyusul keberhasilan Lita Liem (1971), Yayuk Basuki (1991, 1997), Wynne Prakusya (2001), dan Angelique (2002) yang berhasil meraih setidaknya satu kemenangan. Janice bisa sejajar dengan para seniornya itu tanpa mengikuti satu pun turnamen WTA sebelumnya.
Lonjakan Ranking
Perjuangan Janice menuju US Open dimulai sejak dia lulus dari Pepperdine University, Malibu, California, AS, pada Mei 2024. Dari yang tidak memiliki ranking WTA (Asosiasi Tenis Wanita, organisasi yang mengatur tur dan ranking profesional tenis putri, red) sama sekali, dia dihadapkan pada pilihan untuk lanjut berkarier di tenis atau tidak.
“Akhirnya, pelatih di Pepperdine bilang saya harus coba setidaknya dua tahun dan saya percaya mereka,” kata Janice dalam wawancara pasca-pertandingan lawan Kudermetova, seperti dikutip dari kanal YouTube US Open.
Pilihan itu terbukti benar. Sejak lulus, Janice mencatat rekor 101 kemenangan dan hanya 13 kali kalah. Dia merebut 13 gelar ITF (Federasi Tenis Internasional, induk tenis dunia, red). Ranking-nya pun melonjak dari nol ke 149 dunia.
Performanya melesat terutama setelah bekerja sama dengan Chris Bint, mantan pelatih kepala tim nasional Selandia Baru pada Mei lalu. “Yang paling mengesankan dari dia adalah kemampuannya untuk melakukan variasi pukulan dan mencari pemecahan masalah dengan sangat baik,” kata Bint kepada Ubitennis.
Tapi, bukan berarti semua aral sudah terlewati. Di luar urusan teknis, Janice juga harus menghadapi tantangan finansial. Sebagai petenis dari Indonesia, negara dengan populasi 280 juta orang tapi minim infrastruktur tenis, dia harus bergantung pada dukungan orang tua dan sponsor lokal.
“Tenis itu olahraga mahal, harus banyak bepergian. Beruntung orang tua mendukung saya ambil jalur pro,” kata Janice yang bersama Aldila meraih perunggu ganda putri Asian Games 2023 itu.
Bint bahkan melontarkan pernyataan lebih keras. “Tidak ada rencana pengembangan pemain yang jelas (di Indonesia), dari junior hingga profesional. Kami sangat bersyukur dia mendapatkan beberapa sponsor dari Indonesia yang memungkinkannya bermain di tur profesional dan mengizinkan dia merekrut saya sebagai pelatih,” katanya.
Terlepas dari tantangan yang ada, Janice merasa pencapaiannya bukan hanya untuk dirinya sendiri. “Semoga dengan penampilan saya di sini, bisa menginspirasi lebih banyak anak muda Indonesia main tenis dan percaya mereka bisa sampai ke level ini,” katanya. (***)
Reporter : RIZKA PERDANA PUTRA
Editor : RYAN AGUNG