Buka konten ini

PENIPUAN bermodus asmara melalui media sosial masih terus memakan korban. Di Batam, banyak perempuan dilaporkan tertipu setelah menjalin hubungan secara daring dengan pelaku yang tidak dikenal. Kerugian korban bukan hanya waktu, tetapi juga materi.
Modus pelaku umumnya bermula dari perkenalan melalui media sosial. Setelah menjalin komunikasi intens, pelaku menggiring korban pada hubungan asmara semu. Dalam kondisi emosional yang sudah terikat, korban pun mudah terpengaruh hingga rela mengirimkan uang, barang, bahkan data pribadi kepada pelaku. Beberapa di antaranya masih berstatus pelajar.
Kasubdit Siber Ditreskrimsus Polda Kepri, Kompol Arif Mahari, mengatakan penipuan dengan modus tersebut cukup banyak terjadi di Batam. Bahkan, mayoritas korbannya merupakan perempuan.
“Di Batam cukup banyak. Sudah ada yang melapor ke Polda, lainnya ke Polres dan Polsek. Rata-rata perempuan,” ujar Arif, kemarin.
Menurut dia, modus pelaku nyaris seragam. Awalnya, pelaku mendekati korban melalui media sosial, lalu melanjutkan komunikasi lewat WhatsApp.
Dengan iming-iming hubungan asmara hingga janji pernikahan, pelaku kemudian mengajak korban melakukan panggilan video.
“Pelaku mencari perempuan yang single, kemudian intens berkomunikasi. Biasanya pelaku mulai dengan menunjukkan organ intimnya, lalu membujuk korban membuka pakaian. Saat itulah mereka merekam atau mengambil tangkapan layar,” ungkapnya.
Hasil tangkapan layar itu nantinya dijadikan alat untuk memeras korban dengan ancaman akan menyebarkan gambar tersebut di media sosial jika permintaan tidak dipenuhi.
“Gambar yang diambil dijadikan alat pemerasan. Padahal, kebanyakan pelaku tidak berada di wilayah Batam,” kata Arif.
Jika korban menolak mengirimkan uang, pelaku langsung mengancam akan menyebarkan rekaman tersebut ke media sosial atau mengirimkannya ke keluarga korban. Beberapa korban yang ketakutan memilih menuruti permintaan pelaku hingga mengalami kerugian besar.
“Dari laporan yang masuk, kerugiannya beragam. Ada yang kena tipu uang,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Biasanya, pelaku sudah memahami psikologis para korban dengan memperhatikan unggahan di media sosial.
“Kami imbau kepada masyarakat, khususnya perempuan, jika ada yang mengajak berkenalan di media sosial hingga menjanjikan sesuatu, hendaknya dipikirkan matang-matang. Apalagi, belum pernah bertemu sama sekali. Jadi, tetap berhati-hati,” pungkasnya. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : RYAN AGUNG