Buka konten ini

KARIMUN (BP) – Pasar malam yang dulu menjadi ikon kuliner di Karimun kini kehilangan pesonanya. Tempat yang dahulu ramai dikunjungi warga lokal hingga wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura dan Malaysia, kini didominasi oleh pedagang pakaian.
Pasar malam yang biasa buka pukul 17.00 WIB hingga tengah malam ini dulunya menawarkan beragam hidangan khas Melayu. Mulai dari martabak Mesir, nasi sayur, kopi O, hingga teh obeng—semua menjadi magnet bagi pengunjung. Namun, suasana kini berubah drastis.
“Ramai jualan pakaian saja sekarang, beda sekali suasananya. Harus ada terobosan dari kerajaan (pemerintah), bagaimana pasar malam ini bisa kembali seperti dulu, mempertahankan tradisi Melayu,” ujar Datok Kaharuddin, warga Malaysia yang sedang berkunjung ke Karimun, Minggu (27/7) malam.
Kaharuddin mengaku selalu menyempatkan diri mampir ke pasar malam setiap kali berada di Karimun. Baginya, menikmati kuliner khas di suasana malam Karimun adalah pengalaman yang istimewa. Sayangnya, pesona itu kini memudar.
“Nuansanya kurang sekarang, tidak menarik lagi dari sisi kuliner. Kebanyakan malah jualan pakaian dan aksesori,” tambahnya.
Hal senada juga dirasakan para pedagang. Seorang pedagang yang enggan disebut namanya mengeluhkan sepinya pengunjung sejak renovasi pasar malam dilakukan beberapa waktu lalu.
“Sepi sekarang, Bang. Untung saja kami tidak menyewa lapak. Biasanya jam 10 malam mulai ramai, sekarang malah kosong,” keluhnya.
Pantauan di lapangan, sejumlah pedagang terlihat duduk sembari memainkan telepon genggam, menunggu pesanan datang. Sebagian besar menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial sambil berharap ada pembeli yang datang.
“Abang lihat sendiri, sekarang sudah jam 11 malam, tapi dagangan masih banyak tersisa. Beda jauh dengan 10 tahun lalu. Kami berharap ada terobosan baru dari Pak Bupati untuk menghidupkan pasar malam ini lagi,” ujar Bujang, salah satu pedagang kuliner. (***)
Reporter : TRI HARYONO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO