Buka konten ini
BEIJING (BP) – Hujan deras terus mengguyur wilayah Beijing dan sekitarnya sejak Senin (28/7). Di Provinsi Hebei bagian utara, curah hujan ekstrem memicu longsor yang menewaskan empat orang dan menyebabkan delapan lainnya hilang. Otoritas setempat memperingatkan bahwa cuaca buruk diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan, dengan risiko bencana yang semakin tinggi.
Dilansir dari channelnewsasia.com, di Beijing, lebih dari 4.400 warga terpaksa mengungsi dari wilayah pinggiran Miyun akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah desa. Laporan stasiun televisi nasional CCTV menyebutkan, bencana tersebut memutus akses jalan dan melumpuhkan kehidupan warga.
Foto-foto yang beredar di aplikasi WeChat memperlihatkan mobil dan truk mengambang di jalanan Miyun yang tergenang banjir. Ketinggian air bahkan mencapai lantai dasar gedung permukiman. Selain itu, lebih dari 10.000 warga dilaporkan terdampak pemadaman listrik.
Tiongkok bagian utara, termasuk Beijing, dalam beberapa tahun terakhir menghadapi curah hujan yang melampaui rekor sebelumnya. Hal ini menunjukkan betapa rentannya kota-kota besar yang padat penduduk terhadap ancaman banjir. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim global sebagai faktor yang memperparah kondisi ini, terutama di kawasan utara yang biasanya lebih kering.
Observatorium Meteorologi Pusat Tiongkok memprediksi hujan lebat akan terus mengguyur wilayah utara selama tiga hari ke depan. Pemerintah Beijing bahkan telah mengeluarkan peringatan banjir tertinggi sejak Senin, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.
Badai tersebut merupakan bagian dari pola cuaca ekstrem yang dipicu musim hujan Asia Timur. Selain merusak infrastruktur, kondisi ini turut mengganggu aktivitas ekonomi di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Desa Xiwanzi, Kota Shicheng, dekat Waduk Miyun. Sebanyak 100 warga desa telah dievakuasi ke sekolah dasar setempat untuk mengungsi.
Sehari sebelumnya, otoritas Beijing mencatat puncak debit air yang masuk ke Waduk Miyun mencapai 6.550 meter kubik per detik—angka tertinggi yang pernah tercatat.
Banjir juga melanda provinsi tetangga, Shanxi. Video dari media pemerintah memperlihatkan jalan-jalan berubah menjadi arus deras yang menyeret pepohonan dan merendam ladang pertanian. Sementara itu, Provinsi Shaanxi—yang menjadi lokasi Kota Xian—mengeluarkan peringatan banjir bandang.
Di Distrik Pinggu, Beijing, dua ruas jalan yang berisiko tinggi terhadap banjir telah ditutup total. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di berbagai wilayah, termasuk Datong. Di kota ini, seorang pengemudi mobil Ford dilaporkan hilang kontak setelah kendaraannya terjebak banjir.
Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok telah mengeluarkan peringatan banjir yang mencakup 11 provinsi dan wilayah, termasuk Beijing dan Hebei. Peringatan tersebut fokus pada potensi banjir dari sungai kecil dan menengah, serta aliran deras dari pegunungan.
Di Fuping, Kota Baoding, Provinsi Hebei, hujan deras pada Minggu pagi (27/7) menewaskan dua orang dan membuat dua lainnya hilang. Curah hujan di wilayah ini mencapai 145 milimeter per jam, memecahkan rekor setempat.
Sebagai respons cepat, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) Tiongkok mengalokasikan dana darurat sebesar 50 juta yuan atau sekitar Rp111 miliar untuk membantu Hebei. Dana tersebut akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, seperti jalan, jembatan, tanggul, sekolah, hingga rumah sakit.
NDRC menyatakan pihaknya juga mendorong percepatan pemulihan kehidupan warga dan produksi ekonomi di wilayah terdampak.
OtoritasTiongkok kini mengawasi ketat curah hujan ekstrem yang menguji daya tahan sistem pengendalian banjir yang sudah tua. Situasi ini tidak hanya mengancam jutaan warga, tetapi juga mengganggu sektor pertanian yang bernilai sekitar US$2,8 triliun. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD TAHANG