Buka konten ini

BATAM (BP) – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Batam terus menunjukkan tren meningkat sejak 2022 hingga pertengahan 2025. Di tengah situasi ini, psikolog dari Puspaga UPTD PPA Kota Batam, Paramita, menegaskan pentingnya peran keluarga dan sekolah sebagai garda terdepan dalam mencegah dan menangani kasus tersebut.
“Pencegahan tidak bisa semata-mata diserahkan ke lembaga formal. Keluarga dan sekolah adalah pihak pertama yang bisa mendeteksi perubahan perilaku anak sebagai tanda awal adanya kekerasan seksual,” ujar Paramita.
Ia menyebutkan, peningkatan kasus bisa mencerminkan dua hal. Pertama, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor. Kedua, memang tinggi angka kekerasan yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, orang tua perlu jeli membaca perubahan sikap anak. Anak yang biasanya ceria, tetapi tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, atau menarik diri, bisa jadi sedang menyimpan trauma.
“Orang tua perlu menciptakan ruang yang aman agar anak mau bercerita. Jangan langsung menghakimi atau menyalahkan, karena justru itu yang membuat anak takut bicara,” katanya.
Paramita juga menekankan pentingnya edukasi seksualitas sejak dini. Banyak anak menjadi korban karena tidak menyadari bahwa tindakan yang diterimanya merupakan kekerasan.
Peran sekolah pun dinilai sangat krusial. Guru perlu dibekali pelatihan untuk mengenali gejala trauma dan memiliki akses pada sistem pelaporan yang ramah anak.
“Anak harus merasa sekolah adalah tempat aman untuk melapor. Guru BK bisa menjadi jembatan yang kemudian bekerja sama dengan lembaga seperti UPT PPA untuk penanganan lanjut,” ujarnya.
Namun demikian, ia menyadari bahwa guru memiliki keterbatasan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan untuk mendampingi korban secara menyeluruh.
Paramita juga mendorong penguatan sistem perlindungan anak berbasis komunitas. Mulai dari RT/RW, tokoh masyarakat, organisasi lokal, hingga kader posyandu dan karang taruna, semuanya diharapkan dapat berperan aktif dalam deteksi dini dan edukasi publik.
“Banyak anak tidak langsung bisa mengakses psikolog, polisi, atau UPT PPA. Maka peran lingkungan sangat penting. Ketika lingkungan peka, kekerasan bisa dicegah sejak awal,” ucapnya.
Ia menambahkan, membekali orang tua dan guru dengan pengetahuan soal parenting sehat, penggunaan gawai, serta edukasi seksualitas merupakan fondasi utama membangun sistem perlindungan anak yang kuat dan berkelanjutan. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK