Buka konten ini

Aroma bahan kimia dan deru sentrifugasi adalah keseharian Nina Adriani selama tiga tahun di Kanazawa, Jepang. Di balik layar komputer laboratorium, ia menganalisis molekul polimer heliks yang bisa jadi akan menyelamatkan banyak nyawa di masa depan. Namun, bukan di negeri matahari terbit Nina ingin tinggal. Ia memilih pulang. Kembali ke tanah Gurindam, dengan satu tekad: membangun generasi saintis muda di Tanjungpinang.
PEREMPUAN 36 tahun itu baru saja menyelesaikan studi doktoralnya (PhD) di bidang kimia organik dan sintesis polimer di Kanazawa University, salah satu universitas terkemuka Jepang. Kini, ia telah kembali ke Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), tempat ia mengajar, dengan segudang ilmu dan pengalaman.
”Alhamdulillah, semua proses studi di Jepang berjalan lancar. Berkat doa dan dukungan suami, keluarga, dan kolega di Tanjungpinang,” ucap Nina saat ditemui di kampusnya, Selasa (22/7).
Tantangan terberat di Jepang bukanlah suhu dingin atau makanan asing. Tapi manajemen waktu. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam, Nina menghabiskan waktu di laboratorium. Ia harus membagi waktu antara riset, belajar, dan keluarga. “Tapi banyak hal menyenangkan juga, seperti belajar bahasa Jepang gratis dan memperkenalkan budaya Melayu ke dunia,” katanya tersenyum.
Studi doktoralnya bukan jalan mudah. Tahun pertama dipenuhi dengan perkuliahan teori, lalu dua tahun berikutnya fokus pada riset di laboratorium. Tak ada seminar proposal. Mahasiswa langsung diberikan proyek riset di bawah bimbingan sensei.
Setiap dua bulan, wajib seminar hasil riset. Mahasiswa juga harus mempublikasikan setidaknya satu artikel ilmiah dan menyelesaikan dua riset sebelum bisa mengajukan disertasi. Nina menuntaskan semua syarat itu dengan hasil gemilang.
Judul disertasinya: Studies on Synthesis of End-functionalized Helical Poly(Phenylacetylene) Derivatives. Di ruang sidang, ia diuji oleh empat profesor senior. Tegang di awal, namun berbuah manis di akhir. ”Kami dinyatakan lulus dengan nilai cumlaude,” ucapnya penuh syukur.
Nina sempat ditawari menjadi peneliti tetap di Kanazawa University. Tapi ia memilih pulang. “Kampus ini rumah kami. Kini saatnya mengabdi,” ujarnya mantap.
Baginya, pulang ke Tanjungpinang bukan langkah mundur, melainkan jalan pulang dengan misi besar. Ilmu yang dibawanya dari Jepang bukan sekadar teori. Tapi pola pikir ilmiah, etos kerja, kedisiplinan, serta ketelitian yang menjadi DNA riset di Negeri Sakura.
”Kami ingin mahasiswa tidak hanya pintar teori, tapi juga terampil praktik. Siap bersaing di dunia kerja dan menjadi saintis yang memberi solusi bagi masyarakat,” tuturnya.
Kini Nina telah menerapkan model pembelajaran berbasis riset di UMRAH. Mahasiswa diajak mengoperasikan alat laboratorium modern, menganalisis data secara mandiri, dan menulis jurnal ilmiah. Ia juga tengah membangun jejaring riset internasional dan membuka peluang pertukaran mahasiswa.
Menurutnya, potensi Kepri sangat besar. Mulai dari sumber daya alam laut, herbal, hingga industri berbasis kimia. “Semua itu bisa dikembangkan dengan pendekatan saintifik. Misalnya untuk kosmetik ramah lingkungan, pengolahan limbah, hingga konservasi laut,” jelasnya.
Sebagai seorang pendidik dan ibu dari tiga anak, Nina juga menitipkan pesan kepada generasi muda Kepri: jangan ragu menimba ilmu hingga ke luar negeri. “Jangan takut mencoba. Bangun kolaborasi, dan konsisten. Gelar bukan segalanya. Tapi bagaimana ilmu itu memberi manfaat bagi banyak orang,” katanya.
Ilmu, baginya, bukan hanya prestasi pribadi, tetapi investasi jangka panjang untuk daerah dan bangsa. Maka, dari balik meja laboratorium hingga ruang kelas, Nina terus menyalakan semangat agar Tanjungpinang tak sekadar dikenal sebagai Kota Gurindam, tapi juga kota yang melahirkan saintis berkelas dunia. (***)
Reporter : Yusnadi Nazar
Editor : RYAN AGUNG