Buka konten ini

Bertahun-tahun warga hidup dengan air yang asin, payau yang tak layak sebenarnya untuk dikonsumsi. Untuk bisa sekadar minum, mereka harus menyusuri ombak menuju pulau seberang menggunakan pompong kecil, bertaruh nyawa menghadang gelombang besar bila cuaca buruk.
DI sebuah sudut paling utara Indonesia, tepatnya di Desa Mengkait, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, jeriken-jeriken besar berjajar di teras rumah, seperti pasukan yang setia menampung harapan. Bukan untuk menimbun minyak atau bensin, melainkan untuk menyimpan air—sumber kehidupan yang semakin sulit mereka dapatkan.
Air bersih, yang bagi sebagian besar masyarakat kota mungkin hanya seputar memutar kran, di Mengkait adalah perjuangan. Bertahun-tahun lamanya, warga di desa ini hidup dengan air sumur yang rasanya asin. Payau. Tidak layak diminum. Hanya bisa untuk mandi dan mencuci.
”Air sumur di sini rasanya asin, tidak bisa diminum,” tutur Erna, warga setempat, Kamis (17/7), saat ditemui Batam Pos. Tangannya sibuk menyusun jeriken kosong. Ia tahu, persediaan air bersih keluarganya semakin menipis.
Untuk bisa mendapatkan air yang benar-benar bisa diminum, Erna dan warga lain harus menyeberangi laut. Naik pompong kecil, menyusuri ombak menuju pulau seberang. Jarak dan gelombang tak jarang menjadi tantangan, terutama saat cuaca buruk menghadang.
”Kalau ombak besar, kami tidak bisa ke seberang. Jadi terpaksa hemat-hemat air atau beli air galon,” lanjut Erna. Suaranya pelan, matanya menatap jeriken yang tinggal setengah isi.
Air galon pun bukan solusi murah. Di pelosok seperti Mengkait, harga bisa dua kali lipat dari harga di kota. Belum lagi beban pengangkutan dan keterbatasan pasokan. Semua membuat air bersih di sini seperti barang mewah.
Yang lebih menyakitkan, kondisi ini bukan baru terjadi sebulan dua bulan. Sudah bertahun-tahun. Nyaris tak ada perubahan. Warga seperti dibiarkan beradaptasi dengan kekurangan, tanpa sentuhan nyata dari pemerintah.
”Kami mohon perhatian dari pemerintah. Tolong bantu kami mendapatkan air bersih yang layak. Jangan dibiarkan terus seperti ini,” pinta Erna, lirih.
Krisis air di Desa Mengkait bukan sekadar persoalan logistik. Ia adalah gambaran telanjang dari ketimpangan pembangunan. Bahwa di negeri yang kaya laut dan hutan ini, masih ada warga yang bahkan tak punya akses ke kebutuhan paling mendasar, air bersih. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO