Buka konten ini
Veda Ega Pratama belajar dari kegagalan naik podium di sirkuit yang sama tahun lalu. Sudah dua tahun ini di Spanyol dia tak cuma belajar membalap, tapi juga melatih komunikasi dan kemandirian. KESALAHAN itu dengan cepat disadari Veda Ega Pratama.
Dari posisi memimpin, di tikungan terakhir Sirkuit Mugello, Italia, dia disalip pembalap Malaysia Hakim Danish.
”Saya sedikit low RPM. Hakim Danish coba menyalip saya dari luar karena saya sedikit menutup line-nya,” katanya saat Zoom meeting bersama awak media pada Selasa (24/6) malam.
Namun, dia tahu kalau motornya punya speed yang bagus. ”Saya langsung tap in nunduk (di lintasan lurus) dan alhamdulillah saya bisa nyalip. Walaupun gapnya tipis banget, tapi ya senanglah,” ungkapnya.
Gap dengan Hakim di balapan race 2 Red Bull Rookies Cup (RBRC) pada Minggu (22/6) lalu itu tak sampai sekedipan mata: cuma 0,011 detik. Tapi, sangatlah berarti bagi pembalap 17 tahun asal Gunungkidul, Yogyakarta, tersebut.
Sebab, itu berarti dia memborong dua kemenangan. Sebab, pada race 1, Veda berhasil juara dengan mencatatkan waktu 26 menit 31,484 detik. Dia mengungguli pembalap Spanyol David Gonzales dengan 26 menit 31,555 detik dan rider Italia Giulio Pugliese yang mencatat 26 menit 31,629 detik.
Dua kemenangan pembalap binaan Astra Honda Racing Team (AHRT) tersebut menempatkannya di peringkat ketiga dalam klasemen RBRC dengan 92 poin. Di bawah pembalap Malaysia Hakim Danish yang mengoleksi 148 angka dan pembalap Spanyol Brian Uriarte dengan 116 poin.
Sementara di ajang FIM Junior GP yang juga diikutinya, rider yang mulai mencuri perhatian sejak menjalani debut di Asia Talent Cup 2022 di Sirkuit Losail, Qatar, tersebut belum meraih poin dari tiga balapan yang sudah berlalu.
Hasil menggembirakan di Mugello itu langsung dia sambut dengan menjalankan nazar mencukur kumis, sesuai tantangan sang mekanik.
”Rasanya enteng aja. Kalau balapan selanjutnya belum tahu juga (nazarnya),” kata juara Asia Talent Cup 2023 dengan raihan rekor poin terbanyak itu seraya tersenyum.
Belajar dari Pengalaman
Satu musim RBRC terdiri atas 14 balapan yang dihelat di 7 sirkuit. Sedangkan FIM Junior GP ada 7 balapan sepanjang musim. RBRC telah melahirkan banyak pembalap yang kini berkiprah di MotoGP.
Misalnya, Jorge Martin, Miguel Oliveira, Johann Zarco, dan Joan Mir. Pembalap Indonesia Mario Suryo Aji yang kini berkiprah di Moto2 juga membalap di ajang ini pada 2020-2021.
Di Mugello musim lalu, Veda gagal naik podium. Hanya menduduki peringkat kelima di hari pertama dan posisi kedelapan di hari berikutnya. Dia belajar dari pengalaman itu.
Motivasinya juga besar untuk menebus kegagalan balapan sebelumnya di Sirkuit Aragon, Alcaniz, Spanyol. Dia menempati peringkat keempat di kedua race.
Dari Mugello, balapan RBRC terdekat di Sirkuit Sachsenring, Jerman, pada 12-13 Juli. Tapi, sebelum itu dia akan bertarung di FIM Junior GP World Championship 2025 di Sirkuit Nevers Magny-Cours, Prancis, pada 6 Juli.
”Kalau di Sachsenring, saya kira sirkuitnya asyik. Karena treknya naik turun. Dan, sirkuitnya juga pendek,” katanya.
Inspirasi Dua Sosok
Ada dua sosok yang menginspirasinya sebagai pembalap. Pertama tentu saja sang ayah, Sudarmono, yang juga mantan pembalap. Kedua, seniornya, Mario Suryo Aji.
Dengan sang ayah, Veda mengaku sering berdikusi. Pas di race week, sebelum dan sesudah balapan dia selalu tanya sang ayah lewat telepon. ”Masukannya, contohnya kaya cara-cara riding, terus cara strategi buat kualifikasi, buat race juga,” ujarnya.
Sementara itu, Mario menginspirasinya untuk bisa tembus ke Moto2. ”Saya yakin sebenarnya pembalap Indonesia itu bisa bersaing,” katanya.
Tahun ini merupakan tahun kedua Veda dididik di Spanyol bareng para talenta muda dari berbagai negara. ”Kalau sekolah ya sekolah, sekolahannya sekitar 30 menit, 5 km. Selesai sekolah ada waktu untuk nge-gym dan sepedaan,” katanya.
Berada di luar negeri juga membuatnya lebih mandiri. Salah satunya sering memasak. Berbekal bumbu jadi dari kampung halaman, dia me-ngolah nasi goreng, rawon, atau sup.
”Kemarin juga bikin rendang hahaha,” tuturnya.
Manajer Motor Sport AHM Johanes Lucky mengapresiasi pencapaian jebolan Astra Honda Racing School (AHRS) 2019 yang belum lama sembuh dari cedera itu. ”Dia mampu mengejar dengan cepat untuk bisa ke podium. Dari kepercayaan diri dan skill dia improve cepat,” ucapnya.
Senior Head Motor Sports dan Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM) Anggono Iriawan menambahkan, dengan pembekalan dari AHRS, pembalap seperti Veda jadi punya modal perihal komunikasi dan bahasa.
Terlebih, sebelum ke Spanyol sudah berkiprah di Asia Talent. ”Jadi, ketika ke Eropa tidak kosong-kosong banget. Tapi, memang kalau ngomong ke level Moto GP, komunikasi itu paling penting sih,” katanya. (***)
Laporan: RIZKY AHMAD FAUZI
Editor: RYAN AGUNG