Buka konten ini
LINGGA (BP) – Angin puting beliung kembali menyapa pesisir Kabupaten Lingga dengan amarah. Kali ini, musibah yang terjadi pada Sabtu (28/6) itu meluluhlantakkan sebuah rumah warga di Bukit Kabung, Kelurahan Sungai Lumpur, Kecamatan Singkep.
Bangunan itu nyaris tak bersisa. Dinding rumah jebol, atap beterbangan, dan isi rumah berserakan diterpa angin. Tak ada korban jiwa, namun luka yang ditinggalkan bukan hanya bersifat fisik. Warga kehilangan tempat tinggal. Dan yang lebih menyakitkan: belum ada tindakan konkret dari pemerintah daerah.
Pemerintah Kabupaten Lingga, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), menyatakan kesiapannya memberikan bantuan. Namun janji itu belum berubah menjadi aksi, karena berhadapan dengan tembok klasik bernama birokrasi.
”Kami tidak bisa asal bantu. Harus ada tim turun ke lapangan bersama BPBD, menghitung kerusakan dan menilai kelayakan bantuan. Tapi kami masih menunggu surat resmi dari BPBD,” kata Amir, Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman Dinas Perkim Lingga, saat dikonfirmasi, Minggu (29/6).
Penilaian itu diperlukan untuk menentukan bentuk bantuan yang tepat. Namun, alih-alih bergerak cepat, prosedur administratif menjadi ganjalan utama.
Kepala BPBD Lingga, Oktanius Wirsal, mengamini hal itu. Menurutnya, langkah mereka baru bisa dimulai setelah proses verifikasi dari Dinas Perkim selesai.
”Kami tunggu pengajuan dari pemerintah setempat. Setelah itu diverifikasi oleh Dinas Perkim, baru bisa kami proses bantuannya,” ujarnya.
Yang mencemaskan, hingga berita ini diturunkan, pihak Kecamatan Singkep belum menunjukkan gerak cepat ataupun pernyataan resmi. Padahal, dalam situasi darurat, kecamatan adalah garda terdepan pemerintahan di tingkat lokal. Ketidakhadiran mereka memperpanjang derita warga, yang kini tinggal menumpang di rumah kerabat.
Keterlambatan penanganan ini menjadi potret buram penanggulangan bencana di daerah. Terlalu banyak meja, terlalu banyak kertas, terlalu sedikit aksi. Ketika rakyat kecil digulung bencana, yang dihadapi bukan hanya angin puting beliung, tapi juga putaran lamban birokrasi yang tak mengenal empati.
Masyarakat Bukit Kabung menantibukan sekadar janji, tetapi tindakan nyata. Karena dalam situasi darurat, setiap hari tanpa rumah adalah hari yang menambah luka. Bantuan tak boleh lagi dikurung dalam lembaran surat dan rapat yang bertele-tele. (*)
Reporter : VATAWARI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO