Buka konten ini
BATUAJI (BP) – Pusat Rehabilitasi Sosial Non Panti (PRSNP) Kota Batam resmi mengukuhkan jajaran pengurus baru periode 2025-2028, Minggu (29/6). Pelantikan berlangsung di halaman gedung serbaguna PRSNP Teluk Pandan, Sintai, Kecamatan Batuaji, disaksikan langsung Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad.
Pengurus baru yang dilantik adalah Heri G Manimalai sebagai ketua, Yusnita Asmar Yeni sebagai sekretaris, dan Laode Pelita sebagai bendahara. Hadir dalam acara tersebut Kadinsos Kota Batam, Leo Putra, dan Camat Batuaji, Faizal Novricho.
Dalam sambutannya, Amsakar menekankan pentingnya peran PRSNP sebagai mitra strategis pemerintah dalam menangani persoalan sosial dan mencegah praktik tidak manusiawi seperti tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
”Kehadiran pusat rehabilitasi ini sangat penting untuk memberi perhatian kepada warga binaan dari sisi kesehatan, keselamatan, dan perlindungan dari praktik tidak manusiawi,” ujarnya.
Ia berharap PRSNP dapat menjadi alternatif pembinaan yang memberikan masa depan lebih baik bagi masyarakat rentan. “Apakah tetap dalam profesinya atau beralih ke kehidupan yang lebih layak, kita ingin ada perubahan positif,” katanya.
Kadinsos Batam, Leo Putra, menambahkan bahwa PRSNP berada di bawah pembinaan Dinas Sosial Kota Batam. Ia berharap pengurus baru bisa menjalankan amanah dan membawa dampak positif bagi warga binaan.
Ketua PRSNP terpilih, Heri G Manimalai, menyebut bahwa jabatan yang diembannya merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Ia berkomitmen membangun kerja sama solid dan pelayanan terbaik demi kemajuan lembaga.
”Kami akan memperkuat organisasi dan memberi manfaat nyata, bukan hanya untuk warga binaan, tapi juga masyarakat umum,” tuturnya.
Saat ini, PRSNP menampung sekitar 200 warga binaan perempuan yang tersebar di 17 bar di kawasan Batuaji. Mereka mendapat perhatian dalam bentuk pemenuhan gizi, kesehatan, hingga pembinaan rohani.
Pelantikan pengurus PRSNP juga dimeriahkan dengan pertunjukan budaya, salah satunya Tarian Cakalele dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membuat suasana halaman PRSNP terasa magis. Tarian perang yang dibawakan dengan parang dan panah ini membuat tamu undangan tertegun.
Iringan musik tradisional gong dan tifa menambah kekuatan ekspresif tarian yang sarat filosofi tentang keberanian dan semangat juang.
“Bagus ini bapak-bapak, tapi jangan sedikit-sedikit main panah,” canda Amsakar, mengingatkan pentingnya menjaga kedamaian.
Menurutnya, budaya seperti Cakalele harus dijaga sebagai simbol identitas, bukan untuk menakut-nakuti. Ia mengajak warga NTT di Batam untuk tetap rukun, menjaga kondusivitas, dan mendukung pembangunan daerah.
“Kita di Batam hidup berdampingan dengan banyak suku. Dengan semangat seperti Cakalele, saya yakin Batam bisa makin harmonis dan maju,” ujarnya. (*)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RATNA IRTATIK