Buka konten ini
BATAM (BP) – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengungkapkan lonjakan jumlah peminat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Batam pada tahun ini. Kondisi ini dinilai sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat pendidikan vokasi di Kepulauan Riau.
“Kami melihat ada peningkatan signifikan peminat ke SMK dibandingkan tahun lalu. Ini kabar baik. Pemerintah tentu akan mencarikan solusi terbaik untuk mengakomodasi minat para siswa,” ujar Fajar saat berkunjung ke Batam, Rabu (25/6).
Kunjungan kerja Wamen kali ini dirangkaikan dengan pengecekan langsung proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMA Negeri 3 Batam. Ia juga memantau hari terakhir proses verifikasi data siswa yang akan diumumkan pada 28 Juni mendatang. Menurutnya, pelaksanaan SPMB di Batam berjalan relatif lancar.
“Saya cek lang-sung, prosesnya baik. Antara jumlah peminat dan daya tampung cukup ideal. Hanya saja, peminat SMK memang meningkat drastis,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu solusi yang tengah dipertimbangkan adalah mengalihkan fungsi SMA menjadi SMK, terutama di lokasi dengan kebutuhan tinggi akan tenaga terampil. Usulan ini juga telah disampaikan oleh Pemerintah Provinsi Kepri.
“Kami terbuka untuk menyesuaikan, yang penting anak-anak tetap bisa sekolah. Kalau peminat SMK tinggi dan SMA kelebihan ruang, ya kita alihfungsikan. Itu bukan masalah,” tambah Fajar.
Selain solusi internal, Fajar juga menekankan pentingnya sinergi dengan sekolah swasta sebagai mitra strategis. Ia mencontohkan keberhasilan beberapa daerah yang melibatkan sekolah swasta dalam menampung siswa saat sekolah negeri penuh.
“Di Kepri, 60 persen sekolah adalah swasta. Ini kekuatan yang harus dimanfaatkan. Tapi tetap, jangan korbankan kualitas. Kalau satu kelas diisi 50 siswa, itu tidak ideal,” tegasnya.
Terkait rasio kelas, Wamen menegaskan bahwa dalam situasi tertentu, aturan memang memungkinkan satu kelas melebihi kapasitas ideal. Namun hal itu harus dilakukan dengan penuh pertimbangan.
“Kalau betul-betul darurat, bisa saja satu kelas berisi 50 siswa. Tapi itu bukan pilihan utama. Kami tetap ingin menjaga mutu,” ucapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kepri, Andi Agung, menyampaikan bahwa pelaksanaan SPMB tahun ini di Batam cukup baik dan mendapat apresiasi dari pusat. Ia memastikan jumlah siswa per kelas tidak akan sampai 50 orang.
“Rata-rata rombongan belajar (rombel) maksimal di Kepri sebanyak 44 siswa. Kami sudah antisipasi dari awal agar tidak membeludak,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Ombudsman Kepri, Lagat Siadari, menyambut baik keterlibatan pusat dalam pelaksa-naan SPMB kali ini. Ia menyebut sistem penerimaan sudah dikunci, sehingga tidak bisa ditambah secara sembarangan.
“Tidak ada lagi musala atau laboratorium yang dijadikan kelas. Sekolah harus patuh pada sistem. Jika ada kelebihan pendaftar, akan ditransfer ke sekolah lain,” ujar Lagat.
Ia menambahkan, SMKN 7 Batam menjadi salah satu contoh lonjakan peminat. Dari kapasitas sekitar 700 siswa, tercatat 1.200 pendaftar. Sekitar 500 siswa nantinya akan dialihkan ke SMK lain seperti SMKN 2 dan SMKN 6.
Menurut Lagat, selama penerimaan masih dalam batas wajar dan dilakukan secara transparan, prosesnya sudah berjalan baik. “Yang penting, jangan sampai anak-anak tidak sekolah. Tapi jangan juga mengorbankan kualitas,” tuturnya.
6.580 Akun SPMB SMP Jalur Domisili dan Mutasi Terverifikasi
Di sisi lain, hingga hari ketiga pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Batam, sebanyak 6.580 akun calon peserta telah berhasil diverifikasi. Rinciannya, sebanyak 6.552 akun melalui jalur domisili dan 28 akun melalui jalur mutasi.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, memastikan proses pendaftaran daring ini berjalan lancar tanpa gangguan teknis yang berarti.
“Alhamdulillah, server SPMB Batam berjalan stabil. Tidak ada overload karena kami telah menyiapkan tiga server untuk mengantisipasi lonjakan akses. Sejauh ini juga tidak ada gangguan jaringan,” ujar Tri Wahyu, Rabu (24/6).
Diketahui, kuota jalur domisili yang tersedia mencapai 6.873 kursi atau sekitar 45 persen dari total kuota SMP. Sementara jalur mutasi tersedia untuk 750 siswa, atau 5 persen dari total kuota. Selain itu, terdapat juga jalur afirmasi dan jalur prestasi.
Pendaftaran untuk jalur domisili dibuka pada 23–30 Juni 2025 dan seluruh proses dilakukan secara daring melalui laman resmi https://eis.spmbbatam.id. Syarat utama jalur ini adalah Kartu Keluarga (KK) yang telah diterbitkan minimal satu tahun sebelum tanggal pendaftaran, yaitu sebelum 23 Juni 2024, untuk menghindari manipulasi data kependudukan.
“Kami minta orangtua dan siswa menyiapkan semua berkas dengan teliti. Pastikan alamat yang digunakan sesuai dengan KK karena sistem akan memverifikasi jarak domisili melalui koordinat GPS,” tambah Tri.
Namun demikian, hingga hari ketiga pendaftaran, masih ditemukan sejumlah kendala. Di antaranya, orangtua calon peserta yang menggunakan KK yang baru berusia di bawah satu tahun. Selain itu, ada juga yang gagal mengunggah file KK karena ukurannya terlalu besar.
“Ada juga peserta yang sudah lulus di pilihan kedua melalui jalur prestasi, tapi tidak ingin melanjutkan dan memilih menunggu di pilihan pertama. Bahkan, ada yang mencabut berkas karena merasa tidak cocok dengan sekolah penempatan. Tapi karena sistem sudah membaca statusnya mencabut berkas, maka tidak bisa lagi mendaftar di jalur domisili,” jelasnya.
Tri Wahyu mengimbau para orangtua untuk lebih cermat dalam mengikuti proses pendaftaran. Ia menekankan pentingnya memahami alur dan aturan seleksi agar tidak terjadi kekeliruan teknis yang dapat merugikan anak.
“Silakan konsultasikan ke sekolah terdekat atau ke Disdik jika ada kendala. Kami siap bantu. Yang penting, ikuti aturan. Jangan sampai karena kekeliruan teknis, anak menjadi korban,” pungkasnya. (*)
Reporter : YASHINTA – RENGGA YULIANDRA
Editor : RYAN AGUNG