Buka konten ini

Wakil sekretaris Korps Alumni Mahasiswa Islam (KAHMI) Jakarta Raya
Kepemimpinan bukan semata soal visi dan retorika, melainkan juga keberanian untuk memikul tanggung jawab di tengah tantangan. Masa krisis sering kali menjadi momen pengujian karakter sejati seorang pemimpin: Apakah dia memilih maju dan mencari solusi atau justru terpaku mencari penjelasan eksternal sebagai upaya meredakan tekanan.
Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai kondisi jalan rusak di kawasan Parung Panjang menjadi perhatian publik. Dalam keterangannya, beliau menyebut bahwa aktivitas dari wilayah DKI Jakarta turut memengaruhi kondisi buruk infrastruktur di daerah perbatasan tersebut. Pernyataan itu pun menuai beragam tanggapan dan memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai batas tanggung jawab serta urgensi kerja sama antardaerah.
Kewenangan
Parung Panjang merupakan wilayah strategis di perbatasan Kabupaten Bogor dengan Tangerang dan Depok. Selama bertahun-tahun, wilayah ini menghadapi tekanan dari aktivitas truk tambang dan kendaraan berat yang berdampak langsung pada kondisi jalan. Lubang, debu, kerusakan berkepanjangan, dan minim perbaikan menjadi keluhan warga yang belum tertangani secara tuntas. Dalam kerangka kewenangan, perbaikan infrastruktur semacam ini berada di tangan pemerintah kabupaten maupun provinsi, bergantung pada status jalan yang dimaksud.
Namun, perlu diakui, isu-isu lintas wilayah seperti itu memang tidak selalu sederhana. Dinamika pergerakan barang, distribusi kendaraan, dan kepentingan ekonomi antarwilayah menuntut pendekatan yang tidak parsial. Dalam konteks inilah, penting bagi kita untuk melihat pernyataan Gubernur Dedi sebagai bentuk pengakuan terhadap kompleksitas perencanaan regional –sekaligus sebagai pengingat bahwa tidak ada satu pun daerah yang berdiri sendiri.
Penting pula untuk mencatat bahwa pendekatan kolaboratif selalu lebih menjanjikan daripada polemik terbuka.
Respons Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung patut diapresiasi. Tanpa menambah friksi narasi, beliau justru membuka ruang kerja sama untuk duduk bersama serta membahas solusi konkret. Itulah contoh kepemimpinan yang dewasa dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
Kolaborasi
Selama ini, Jakarta telah menunjukkan komitmen terhadap pembangunan regional. Mulai dukungan terhadap transportasi publik di wilayah sekitar hingga kerja sama infrastruktur kawasan. Namun, dalam suhu politik yang tinggi, kontribusi tersebut sering kali terlewatkan dalam perbincangan publik.
Saat ini, yang paling dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan komitmen bersama untuk mengatasi masalah. Jika Pemprov Jabar dapat merangkul Pemerintah Kabupaten Bogor, DKI Jakarta, serta sektor swasta dalam forum kolaboratif yang strategis, penyelesaian masalah Jalan Parung Panjang tidak hanya menjadi mungkin, tetapi juga bisa menjadi contoh sukses integrasi pembangunan lintas wilayah.
Opini publik pada akhirnya akan berpihak pada pemimpin yang menghadirkan solusi, bukan sensasi. Pemimpin yang mengulurkan tangan untuk kerja sama, bukan menunjuk jari mencari kesalahan. Di tengah ekspektasi masyarakat yang terus meningkat terhadap kualitas pelayanan publik, pemimpin yang adaptif, terbuka, dan mampu membangun sinergi akan lebih mendapat tempat di hati rakyat.
Sebab, dalam demokrasi yang sehat, kritik tidak untuk menjatuhkan, tetapi menumbuhkan. Dalam kepemimpinan yang matang, perbedaan tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk dipertemukan. (*)