Buka konten ini
TEL AVIV (BP) – Israel menuding Iran masih melakukan serangan setelah gencatan senjata diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (23/6) sekitar pukul 14.00 waktu Washington DC. Namun, Iran membantah dan justru menuding Israel yang lebih dahulu menggempur.
Sembilan orang di Iran tewas akibat serangan Israel dan empat warga Israel juga kehilangan nyawa akibat serangan rudal dari Iran. Semua terjadi setelah Trump dengan yakin mengumumkan bahwa gencatan senjata akan mengakhiri apa yang ia sebut sebagai “Perang 12 Hari”.
Dengan semua yang terjadi, bisa dikatakan bahwa gencatan senjata itu gagal. Baik Iran maupun Israel masih saling menyerang hingga kemarin (24/6). Kegagalan ini terjadi karena masing-masing pihak saling tidak percaya.
Bahkan, sebelum Trump mengumumkan gencatan senjata, Iran lebih dahulu menyerang pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar. Beberapa jam kemudian, giliran pangkalan militer AS di Irak yang dihantam rudal oleh negeri yang dulu bernama Persia itu. Kedua serangan tersebut merupakan bentuk pembalasan atas keterlibatan AS yang mengebom tiga situs nuklir Iran.
Sepakat dengan Syarat
Inbal Cohen masih shock. Warga Tel Aviv itu sedang berada di apartemennya saat sirene peringatan rudal berbunyi kemarin (24/6). Ia segera berlari ke tempat perlindungan.
Ledakan keras akibat rudal Iran mengguncang area yang hanya berjarak satu kilometer dari tempat tinggalnya. “Itu suara yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Sangat menakutkan,” ujarnya, seperti dikutip BBC.
Toko miliknya yang terletak tepat di seberang lokasi ledakan mengalami kerusakan pada bagian jendela. “Tapi, saya lega tidak ada kerusakan lebih parah,” tambahnya.
Ledakan itu terjadi beberapa jam setelah pengumuman Trump. Merespons pengumuman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyetujui gencatan dengan syarat. “Asalkan Israel menghentikan agresi ilegalnya terhadap rakyat Iran selambat-lambatnya Selasa (24/6) pukul 04.00 waktu Teheran,” katanya.
Israel juga menyatakan telah setuju. Namun, dua jam setelahnya, dengan alasan telah mendeteksi peluncuran rudal dari Iran, Israel langsung melakukan serangan balasan ke pusat kota Teheran.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa pelanggaran oleh Iran harus dibalas dengan tegas. “Saya telah memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel untuk menyerang target rezim di jantung Teheran,” tegasnya.
Iran membantah keras tuduhan tersebut. Media pemerintah setempat menyebut bahwa mereka tidak meluncurkan rudal ke Israel setelah kesepakatan gencatan dicapai. Namun, karena diserang, mereka pun melakukan pembalasan.
Ledakan dan serangan udara kembali mewarnai langit kedua negara. Di Iran, sembilan orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel, termasuk seorang ilmuwan nuklir. Sejumlah warga menyebut ini sebagai rentetan serangan terberat sejak konflik pecah hampir dua pekan lalu.
Protes Qatar
Sementara itu, Qatar menyampaikan protes resmi kepada PBB atas serangan Iran ke Al-Udeid. Doha menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi yang sangat berbahaya dan pelanggaran terhadap kedaulatan negara mereka.
Tapi, kemarin, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dikabarkan menerima telepon dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam percakapan itu, mereka membahas serangan Iran terhadap Al-Udeid yang tak menimbulkan korban jiwa atau luka itu.
Mengutip Al Jazeera, kabar tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed. Menirukan ucapan Tamim, Sheikh Mohammed menyatakan, Qatar selalu mengadopsi prinsip-prinsip bertetangga yang baik. “Qatar tidak mengharapkan tindakan bermusuhan seperti itu,” ujarnya.
Namun, tak ada tanda-tanda bahwa Qatar akan membalas serangan Iran. Qatar justru mengarahkan perhatian pada Israel. “Ini adalah kesempatan bagi seluruh dunia untuk berdiri bersatu mengakhiri tindakan Israel yang tidak bertanggung jawab,” kata Sheikh Mohammed.
Setelah Al Udeid di Qatar, Iran juga menyerang Pangkalan Militer Taji, Iraq. Dilansir dari Anadolu Agency, serangan pesawat tak berawak menargetkan bagian pangkalan militer di utara ibu kota Baghdad.
Pangkalan tersebut sekarang ditempati militer Iraq dan juga pasukan koalisi yang dipimpin AS. “Tidak ada korban dalam serangan itu,” kata Kepala Komando Operasi Baghdad Letnan Jenderal Walid al-Tamimi.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan, serangan rudal terhadap Pangkalan Al-Udeid adalah tanggapan yang sah berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Serangan tersebut merupakan pembalasan atas serangan AS ke tiga lokasi nuklir Iran.
Melalui akun X miliknya, Baqaei menekankan bahwa Iran menghargai hubungannya dengan Qatar. “AS telah mencoba untuk memecah belah wilayah (Timur Tengah) ini,” tulisnya.
Pilih Pulang karena Pemerintah Iran Resmi Umumkan Perang
Ali Murtadho akhirnya bisa bernapas lega setelah kembali ke Tanah Air kemarin (24/6). Sebelumnya, mahasiswa asal Gresik, Jawa Timur yang menuntut ilmu di Iran itu mengaku diselimuti kecemasan.
Mahasiswa Jurusan Ushul Fiqh di Al-Mustafa International University Qom, Iran tersebut menjadi salah satu pelajar yang ikut dalam rombongan evakuasi yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, kemarin (24/6) petang. Dia mengaku kali pertama mendapat pesan di grup WNI soal adanya evakuasi.
Meski di Qom yang berjarak 156 kilometer di barat daya Teheran kondisinya relatif aman, dia memilih ikut serta. Keputusan tersebut turut didasari pengumuman resmi dari Pemerintah Iran yang menyatakan, negara mereka dalam kondisi perang.
“Biasanya kan hanya serangan-serangan, lalu setelah itu selesai. Kali ini diumumkan secara resmi kalau sedang perang,” paparnya.
Dia pun harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam ke Teheran sebagai titik awal proses evakuasi. Ali sempat menginap di safe house KBRI selama semalam.
Mendengar Ledakan
Menurutnya, kondisi di Teheran lumayan mencekam lantaran serangan Israel datang silih berganti. Tapi, meski mendengar adanya ledakan-ledakan, Ali mengaku tak sampai melihat ledakan-ledakan tersebut sampai ke daratan. Menurutnya, itu lantaran serangan tersebut berhasil dihalau sistem pertahanan udara Iran.
Akses internet terbatas. Pemberitaan dari luar Iran juga sulit diakses. Dia mengaku baru bisa berkomunikasi dengan keluarganya ketika sudah memasuki wilayah Azerbaijan.
Menurutnya, saat ini masih ada kurang lebih 100 orang WNI di Qom. Dia mengaku tak tahu alasan pasti mereka yang tidak ikut dalam proses evakuasi tahap pertama. Dia meyakini teman-temannya dari Indonesia akan ikut di gelombang kedua. Sebab, banyak kampus yang akhirnya memutuskan mengundur ujian akhir semester.
Tertahan di Doha
Awalnya dijadwalkan ada 29 WNI yang tiba di Indonesia kemarin (25/6). Tapi, hingga tadi malam, baru 11 orang yang berhasil tiba dengan menggunakan maskapai Turkish Airlines. Mereka berasal dari dua provinsi: Jawa Timur dan Kalimantan Timur.
Beda halnya dengan 18 orang WNI lainnya yang menggunakan Qatar Airways. Mereka tertahan di Doha lantaran adanya gangguan penerbangan.
Dirjen Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Andy Rachmianto menjelaskan, gangguan itu terjadi akibat serangan Iran ke pangkalan udara AS Al-Udeid yang ada di Qatar pada Senin (23/6) malam waktu setempat. “Karena mereka menggunakan maskapai Qatar Airways, dari Baku menuju Jakarta, transit Doha, jadilah penerbangan mereka sempat terganggu,” jelasnya setelah menerima kedatangan 11 WNI evacuee dari Iran di Bandara Soekarno Hatta, kemarin. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG