Buka konten ini
KARIMUN (BP) – Dua tahun lalu, wajah-wajah kecil berseri memenuhi halaman sekolah dasar dan menengah pertama di Karimun. Mereka mengenakan seragam baru: putih biru lengkap dengan dasi, topi, bahkan atribut pramuka. Semua dibagikan gratis oleh pemerintah kabupaten, hasil dari program bantuan seragam sekolah yang digagas oleh pemerintahan sebelumnya.
Kini, menjelang tahun ajaran baru 2025/2026, program itu seperti lenyap ditelan angin. Tak ada kabar kelanjutannya, tak ada kepastian dari pemerintah. Di bawah kepemimpinan Bupati Karimun, Iskandarsyah, dan Wakil Bupati, Rocky M. Bawole, program seragam sekolah gratis masih menjadi tanda tanya publik.
“Harapannya, tetap ada program seragam gratis untuk tahun ini, Bang,” kata Dewi, warga Karimun, Selasa (27/5). “Lumayan, bisa mengurangi beban biaya sekolah, apalagi sekarang apa-apa mahal,” lanjutnya.
Hal serupa diungkapkan Yasminto, seorang buruh harian yang anaknya akan masuk ke SMP. Baginya, dua setel seragam gratis sangat berarti. “Tahun lalu anak saya dapat seragam nasional dan pramuka, lengkap. Bagus pula bahannya. Tahun ini belum jelas sama sekali,” ujarnya.
Ketidakjelasan itu dibenarkan langsung oleh Bupati Karimun, Iskandarsyah. Ketika dikonfirmasi, ia mengaku belum dapat memastikan apakah program seragam gratis bisa direalisasikan tahun ini. “Sabarlah dulu, kami sedang fokus menyelesaikan kewajiban tunda bayar kepada pihak ketiga,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Karimun, kata dia, masih dibebani utang dalam jumlah cukup besar, dan penyelesaiannya menjadi prioritas utama. Rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga menegaskan pentingnya melunasi utang tersebut terlebih dahulu, sebelum melanjutkan program-program berbasis bantuan sosial seperti seragam gratis.
“Kalau kondisi keuangan memungkinkan, nanti kita hitung kembali. Mudah-mudahan bisa terealisasi,” ucap Iskandarsyah.
Tahun lalu, program seragam sekolah ini menghabiskan anggaran sekitar Rp4 miliar dari APBD Karimun. Bantuan diberikan kepada 4.447 pelajar tingkat SD dan 4.052 pelajar SMP. Selain itu, sebanyak 3.305 anak usia dini (PAUD) juga menerima bantuan Alat Permainan Edukatif (APE).
Kini, dengan anggaran yang sedang tersendat, nasib program itu berada dalam posisi serba tak pasti.
Sementara itu, para orang tua hanya bisa berharap. Sebab bagi mereka, sepasang seragam bukan sekadar kain: ia adalah bantuan nyata yang bisa meringankan beban hidup, sekecil apa pun bentuknya. (*)
Reporter : TRI HARYONO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO