Rabu, 1 April 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Perawat Indonesia, Penjaga Harapan Bangsa

Oleh:
A. AZIZ ALIMUL HIDAYAT
Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan; Guru Besar Ilmu Keperawatan UMS; Anggota Kolegium Keperawatan Indonesia

Dunia memperingati Hari Perawat Internasional setiap 12 Mei, bertepatan dengan hari kelahiran Florence Nightingale, pelopor keperawatan modern. Tahun ini, International Council of Nurses (ICN) mengusung tema global ’’Our Nurses. Our Future. Caring for Nurses Strengthens Economies’’. Sebuah pesan yang menegaskan pentingnya merawat perawat, bukan hanya sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras mereka, melainkan juga sebagai investasi masa depan sistem kesehatan dan kekuatan ekonomi suatu negara.

Di Indonesia, perawat sering kali menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit rujukan nasional maupun puskesmas terpencil di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Mereka hadir saat masyarakat membutuhkan pertolongan. Merawat luka yang tak hanya fisik tetapi juga emosional. Juga, menjadi penopang sistem kesehatan ketika krisis melanda seperti yang terlihat jelas saat pandemi melanda beberapa tahun lalu. Namun, ironisnya, profesi yang begitu vital tersebut kerap kali berada dalam bayang-bayang ketimpangan struktural dan ketidakadilan sosial.

Masalah Klasik
Beban kerja yang tinggi, gaji yang belum layak, perlindungan hukum yang lemah, serta kurangnya akses pada pendidikan dan pengembangan karier menjadi masalah klasik yang terus membayangi dunia keperawatan. Banyak perawat yang bekerja melebihi batas waktu tanpa kompensasi memadai, menghadapi risiko kekerasan di tempat kerja, dan tetap berdedikasi di tengah keterbatasan sarana prasarana.

Di tengah tantangan tersebut, perawat tetap menjadi pilar utama dalam menjaga kualitas layanan kesehatan. Mereka tidak hanya menjalankan tugas klinis, tetapi juga berperan sebagai edukator kesehatan, pendamping keluarga pasien, hingga menjadi pemimpin di komunitas.

Karena itu, sangat wajar apabila dunia mulai menyadari bahwa memperkuat posisi perawat bukan hanya tanggung jawab moral, melainkan juga langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut laporan WHO, negara yang memiliki sistem keperawatan yang kuat cenderung memiliki indikator kesehatan masyarakat yang lebih baik. Misalnya, usia harapan hidup yang tinggi, angka kematian ibu dan bayi yang rendah, serta efisiensi dalam pengelolaan penyakit kronis. Lebih dari itu, investasi pada kesejahteraan perawat juga menciptakan efek domino terhadap sektor ekonomi lainnya. Mulai meningkatnya produktivitas masyarakat hingga penghematan anggaran negara akibat menurunnya beban penyakit.

Sayang, realitas di Indonesia masih jauh dari harapan. Distribusi perawat masih timpang antarwilayah, jenjang karier sering terhambat birokrasi, dan aspirasi perawat belum sepenuhnya mendapat ruang dalam perumusan kebijakan publik. Padahal, sudah saatnya perawat dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis di sektor kesehatan. Perawat bukan hanya pelaksana teknis. Mereka juga pemikir dan pemimpin yang memahami langsung realitas di lapangan.

Arah Kebijakan
Momentum Hari Perawat Internasional ini harus dijadikan titik balik. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan afirmatif yang berpihak kepada perawat, mulai sistem penggajian yang layak, jaminan perlindungan kerja, pelatihan kepemimpinan, hingga perluasan peran perawat dalam sistem pelayanan berbasis digital dan telehealth. Institusi pendidikan juga perlu berbenah dalam mencetak perawat yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga tangguh secara emosional dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Lebih jauh, sudah saatnya Indonesia memiliki ’’peta jalan nasional keperawatan’’ yang mengatur arah pembangunan profesi itu secara berkelanjutan. Dokumen strategis tersebut bisa menjadi panduan bagi pemangku kepentingan untuk menyelaraskan kebijakan pendidikan, pelayanan, serta karier perawat dengan kebutuhan pembangunan nasional dan global. Apalagi, dalam era penuaan penduduk dan transisi epidemiologi, kebutuhan akan tenaga keperawatan yang andal bakal terus meningkat.

Kita juga tidak bisa menutup mata atas peran masyarakat. Menghormati perawat bukan hanya dengan ucapan terima kasih, tetapi dengan menjunjung tinggi hak-hak mereka sebagai tenaga profesional. Setiap orang yang pernah merasakan sentuhan tangan hangat seorang perawat pasti memahami bahwa profesi itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.

Hari Perawat Internasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan panggilan untuk berubah. Jika kita ingin masa depan yang sehat, adil, dan berkelanjutan, kita harus mulai dengan merawat mereka yang setiap hari merawat kita. Ketika perawat diberdayakan, bukan hanya pasien yang sembuh, melainkan bangsa ini ikut tumbuh.

Perawat Indonesia adalah pilar kesehatan. Mereka adalah penjaga harapan bangsa di ruang sunyi perawatan, di tengah krisis kemanusiaan, dan dalam denyut kehidupan masyarakat Indonesia yang ingin bangkit lebih sehat dan kuat. Selamat Hari Perawat Internasional. (*)

Oleh:
A. AZIZ ALIMUL HIDAYAT
Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan; Guru Besar Ilmu Keperawatan UMS; Anggota Kolegium Keperawatan Indonesia