Buka konten ini

LINGGA (BP) – Pemerintah Kabupaten Lingga dengan percaya diri menyatakan keberhasilanya dalam pembangunan dan penyaluran bantuan sosial. Ternyata itu tidak 100 persen nyata. Ada kisah pilu dari seorang warga bernama Joni, warga Desa Marok Tua.
Sejak tahun 2020, Joni hidup dalam kondisi memprihatikan. Ia hidup di rumah yang nyaris roboh. Dinding papan sudah keropos, atap bocor dan penuh lubang. Bukanlah tempat tinggal yang layak.
Ironisnya, hingga hari ini, tak ada satu pun bentuk bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga yang didapatkannya. Joni kini terpaksa menumpang bersama istri dan anaknya di rumah tetangga. Anaknya bahkan harus putus sekolah karena kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan.
”Sudah berkali-kali saya ajukan bantuan untuk perbaikan rumah, tapi tak kunjung kami dapatkan. Dari pemerintah Desa tak ada kabar, bahkan dari pemerintah kabupaten pun seolah kami ini tidak ada,” ujar Joni, Jumat (9/5).
Ia mengaku bekerja serabutan demi menghidupi keluarga. Kadang menjadi buruh harian, kadang mengais sisa-sisa pekerjaan lain. “Yang penting anak dan istri bisa makan,” katanya lirih.
Yang lebih memprihatinkan lagi, menurut Joni, pemerintah desa setempat tidak pernah meninjau langsung kondisi rumahnya. Tidak ada survei, tidak ada data, apalagi aksi nyata.
”Kami cuma ingin rumah itu bisa diperbaiki agar kami tidak lagi menumpang di rumah tetangga dan bisa istirahat dengan nyaman. Tidak usah bagus, yang penting tidak bocor saat hujan, dan kami bisa tidur dengan tenang,” tambahnya.
Kisah Joni ini mencerminkan betapa jelas ketimpangan oleh pemerintah dalam menyalurkan bantuan untuk mensejahterakan masyarakat yang diucapkan dalam janji setiap kampanye pemerintah soal ”pemerataan kesejahteraan”.
Ketika satu warga dibiarkan tinggal di rumah reot dan anaknya putus sekolah, maka ini bukan sekadar kelalaian ini adalah bentuk nyata dari pembiaran struktural.
Sampai kapan warga miskin seperti Joni harus menunggu uluran tangan yang tak kunjung datang? Sampai rumah itu benar-benar ambruk dan hidup mereka semakin tersungkur? (***)
Reporter : VATAWARI
Editor : ALFIAN lUMBAN GAOL