Buka konten ini
Siti Nur Amalia Kholisoh diwisuda hanya sembilan hari setelah dioperasi akibat kecelakaan lalu lintas. Ide awal menggunakan ranjang pasien dari ayah wisudawati cum laude tersebut dengan kawan sejurusan jadi perantara dengan pihak kampus.
AUDITORIUM Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat, mendadak riuh oleh suara tepuk tangan ribuan wisudawan dan tamu undangan. Empat panitia wisuda yang mengangkat tandu dari lorong sebelah kanan jadi pemicunya.
Tandu itu berupa hospital bed atau ranjang pasien rumah sakit. Di atasnya berbaring Siti Nur Amalia Kholisoh dengan pakaian lengkap wisudawati.
Sabtu (26/4) pekan lalu itu, wisudawati jurusan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram tersebut harus ditandu setelah menjalani operasi akibat patah tulang paha bagian kanan sembilan hari sebelumnya. Pen terpasang di bagian yang dioperasi tersebut. Otomatis kaki mahasiswi 22 tahun tersebut harus diselonjorkan, tak bisa ditekuk.
Tubuhnya tentu juga masih menahan sakit setelah operasi pada 17 April lalu itu.
Tapi, Amalia tetap menebar senyum dan melambaikan tangan membalas sambutan hangat yang dia terima dari semua orang di auditorium.
”Luar biasa, semangat ananda tak pernah padam. Ini menjadi inspirasi bagi kami semua. Kami doakan ananda cepat sembuh,” tutur Rektor UIN Mataram, Prof Masnun Tahir, sebagaimana dilansir Lombok Post (grup Batam Pos).
Apresiasi juga datang dari Dekan FTK UIN Mataram Prof Jumarim. Dalam sambutannya, dia mengaku terharu dan bangga dengan perjuangan salah seorang mahasiswinya itu.
Saat menyerahkan ijazah kepada Amalia, tidak henti-hentinya Jumarim memberi pujian dan mendoakan agar Amalia cepat sembuh dan segera beraktivitas. ”Semangat yang luar biasa dari Siti Nur Amalia Kholisoh ini patut dicontoh,” ujar Jumarim.
Tidak hanya apresiasi untuk kegigihan mengatasi halangan fisik. Jumarim juga memuji capaian akademik Amalia. Mahasiswi asal Lombok Timur itu mencatat indeks prestasi kumulatif 3,84 atau lulus cum laude.
Kecelakaan lalu lintas pada Sabtu (12/4) dua pekan sebelum wisuda membuat kondisi Amalia seperti sekarang ini. Saat itu dia baru pulang dari kampus UIN Mataram untuk mengambil toga dan perlengkapan wisuda.
Mengendarai sepeda motor, dia hendak pulang ke rumahnya di Kelurahan Kelayu Selatan, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Jarak dari kampus UIN Mataram sekitar 55 kilometer.
Insiden terjadi di depan SMPN 1 Masbagik, Lombok Timur. Sebuah mobil yang melaju di depannya tiba-tiba mengerem mendadak. Amalia yang kaget otomatis juga mengerem.
Tapi nahas, dari belakang seorang pengendara sepeda motor menghantam motor Amalia. Akibatnya, Amalia pun terjatuh ke sisi kanan dan tertindih motornya. Sedangkan toga dan perlengkapan wisuda yang baru diambil dari kampus jatuh berserakan.
Amalia berusaha untuk duduk. Tapi, duduknya tidak bisa sempurna. Dia juga baru sadar kaki kanannya tidak bisa ditekuk karena sakit.
”Saat saya duduk, rasanya sudah beda. Kaki kanan tidak bisa digerakkan. Sejak itu saya sudah menyangka tulang kaki saya patah,” tuturnya kepada Lombok Post.
Dengan dibantu mobil puskesmas keliling yang kebetulan melintas, Amalia langsung dievakuasi ke Puskesmas Masbagik. Di sana dia mendapatkan pertolongan darurat berupa infus dan pemasangan gips pada bagian tulang paha yang patah.
Sekitar sejam di puskesmas, Amalia langsung dirujuk ke RSUD dr R. Soedjono, Selong, Lombok Timur. Dari hasil rontgen diketahui bahwa tulang paha kanan Amalia patah dengan pergeseran sekitar 5 sentimeter.
Karena itu, pihak rumah sakit menyarankan untuk operasi dan pasang pen buat menyangga tulang yang patah.
Tapi, operasi baru dilakukan lima hari berselang (17/4). Setelah itu pemulihan sampai Senin (21/4).
”Lalu dikasih pulang oleh dokter. Perawatan jalan dilakukan setiap dua hari sekali untuk ganti perban,” tuturnya.
Semula, karena melihat kondisinya, Amalia tidak terlalu berharap bisa ikut wisuda. Opsi menggunakan kursi roda juga tak bisa dilakukan.
”Setelah dicoba, ternyata kaki kanan saya tetap tidak bisa ditekuk,” ucapnya.
Harapan untuk bisa tetap wisuda muncul lagi melalui ide ayahnya, Selamet Riadi. Pria 46 tahun itu menyarankan agar anaknya menggunakan hospital bed ke tempat wisuda.
Hospital bed itu dimasukkan ke ambulans. Sehingga kedua kaki Amalia tetap bisa selonjoran. ”Saya sarankan pakai ranjang pasien karena saya tahu anak saya tetap ingin ikut wisuda,” tutur Selamet.
Tapi, kendala lain muncul. Ayah dua anak tersebut pesimistis bakal diizinkan kampus. Sebab, selain kondisi anaknya masih sakit, juga dikhawatirkan akan mengganggu suasana di dalam ruangan wisuda.
Amalia akhirnya menyampaikan ide itu ke kampus melalui perantaraan Yeni Nurmala, teman satu jurusan yang juga hendak diwisuda. Yeni lalu meneruskan usulan tersebut ke koordinator penyele-nggaraan wisuda UIN Mataram Suhirman Adita.
”Nah, selepas Magrib sehari sebelum wisuda, saya dikabari lagi ternyata panitia mengizinkan (menggunakan hospital bed),” tutur Selamet.
Malam itu juga Selamet datang ke Masjid Jami’ Al Umary Kelayu. Idrus, si sopir ambulans, ternyata bersedia diajak mengantarkan Amalia wisuda. (***)
Laporan: UMAR WIRAHADI
Editor: RYAN AGUNG