Buka konten ini



Ibarat air gunung yang turun ke lembah-lembah, terus mencari celah untuk sampai ke sungai, lalu berakhir di laut. Begitulah seorang Cip Budiyanto, 47, terus mencari peluang untuk tumbuh dan berkembang mencapai tujuannya.
Modal ilmu tekniker gigi yang ia bawa ke Kota Batam lebih dari dua dekake lalu dari kampung halamannya di Lampung terus ia kembangkan.
Mulai dari nol sebagai kar-yawan yang hanya menggantungkan pengahasilan dari upah setiap bulan, lalu memutuskan untuk mendirikan usahanya sendiri.
Ketika sudah punya modal untuk berdikari, ia sewa sebuah kamar kos untuk dijadikan ”lab” sekaligus tempat tinggal bersama sang istri, Sathiya, 46.
Awal merintis, Budi menjalaninya dari pintu ke pintu pelanggannya. Namun, beberapa tahun kemudian, ikhtiarnya tak mengecewakan. Ketekunannya berwirausaha membuahkan hasil. Dari sebuah kamar kos yang sempit, lalu berpindah ke sebuah rumah, kemudian terus berkembang hingga kini pindah ke sebuah ruko.
Satu ruko tak cukup, ia sewa dua unit ruko lainnya yang sekarang juga dibeli untuk mendukung bisnisnya. Ia beri merek Budi Dental Lab & Gallery yang berlokasi di Ruko Villa Hang Lekir, Legenda Malaka, Kecamatan Batam Kota, Kota Batam.
Usaha yang awalnya ia rintis sendiri, mulai dari cari pelanggan, membeli bahan, membuat pesanan hingga mengantar pesanan pelanggan, kini ia punya 20 karyawan sesuai dengan tugasnya masing-masing. Meski demikian, hingga saat ini, Budi masih turun langsung untuk menangani keluhan dan pesanan pelanggan.
Seperti Sabtu (12/4) lalu, ia meladeni keluhan Hadisyah, 71, di ruang kerjanya. Warga Jalan Gaperta, Medan, Sumatra Utara, tersebut mengeluhkan gigi palsunya yang dibuat 5 tahun lalu berubah warna.
”Gigi saya ompong atas bawah sudah puluhan tahun,” ujar Hadisyah.
Di ruang periksa, dengan telaten Budi memeriksa rongga mulut Hadisyah dan me-ngukur giginya yang duduk di dental chair. Budi dibantu sang istri, Shatiya. Shatiya memegang cermin untuk memudahkan pasien atau Budi melihat kondisi rongga mulut yang sulit dilihat secara langsung.
”Gigi palsunya yang meng-hitam karena menggunakan material yang tidak semestinya, material self curing acrylic. Material tersebut rawan. Air ludah masuk, sisa makanan masuk ke gigi palsunya, karena terdapat poronsitus atau lubang-lubang seujung jarum di gigi palsunya,” kata Budi.
Terus Mencari Peluang Baru
Dunia teknologi terus berkembang seiring zaman. Begitu pula teknologi di bidang gigi tiruan. Cip Budiyanto tak ingin menyia-nyiakannya. Ia melihat itu sebagai peluang usaha. Dimana, pembuatan gigi, kini dikerjakan dengan teknologi digital 3 dimensi atau digital dentistry.
”Sebelumnya dokter gigi di Batam pesan (gigi tiruan dengan digital 3D)-nya ke Jakarta atau Surabaya. Saya lihat ini peluang, maka dari itu saya berinvestasi alat tersebut meskipun harganya sangat mahal,” ungkap Budi bersemangat.
Tak hanya alat yang ia beli, Budi juga mengirim dua kar-yawannya ke Jakarta selama satu bulan untuk mempelajari mengoperasikan alat canggih tersebut. Dan kini, alat tersebut sudah berada di ruang lab-nya.
”Kini sudah siap menerima pesanan dari dokter gigi. Jadi, gak usah jauh-jauh lagi ke Jakarta atau Surabaya. Pesan di sini, bisa hemat waktu dan biaya,” ucapnya.
Budi mengatakan bahwa untuk gigi tiruan cekat yang dibuat dengan alat baru ini, Budi Dental Lab & Gallery hanya menerima pesanan dari dokter gigi, tidak boleh menerima pasien secara langsung.
”Jika dokter (gigi)-nya punya alat scan intra oral 3D, dia bisa kirim file-nya saja. Selebihnya kami yang mengerjakan. Itu bisa menghemat (waktu) dalam pengiriman,” terangnya.
Secara teknis, jalur kerja pembuatan gigi tiruan dengan teknologi 3 dimensi ini yang pertama adalah menerima pesanan dari dokter gigi dalam bentuk model dengan material kerja yang disebut dental stone atau cetakan rahang. Kemudian, model kerja tersebut di-scan dengan alat 3D yang terhubung dengan komputer yang sudah diinstal dengan software CAD/CAM (Computer-Aided Design and Computer-Aided Manufacturing), sebuah perangkat lunak yang dipakai dalam proses perancangan produk dan pembuatan produk model 3D dan 2D. Lalu, file 3D yang sudah dipindai tersebut didesa-in di komputer sesuai pesanan.
”Selanjutnya proses manufaktur dengan alat miling atau printing. Miling itu bahan bakunya blok zirconia, sedangkan printing bahan bakunya resin cair,” kata Budi.
Blok zirconia yang sudah dicetak tersebut setengah keras dan bentuknya lebih besar dari dimensi aslinya. Warnanya putih. Bahan tersebut selanjutnya dimasukkan ke mesin sintering yang tujuannya untuk mengeraskan.
”Sintering itu semacam oven. Prosesnya butuh waktu 6 sampai 12 jam di suhu 1.500 derajat Celcius,” jelasnya.
Setelah proses sintering, bentuk gigi yang tadinya besar, dimensinya akan mengecil sesuai desain, dan warnanya akan berubah ke warna gigi sesuai shade guide pesanan dokter.
”Gigi hasil sintering belum sempurna, masih perlu tiga langkah lagi. Yakni penyempurnaan anatomi, pewarnaan, dan mengkilatkan. Jadi, prosesnya sekitar satu sampai dua hari.”
Gigi buatan tersebut, kata Budi, dibuat senatural mungkin, disesuaikan dengan gigi di sekitarnya. ”Ini ada (warna) cokelatnya. Itu disengaja agar tampak natural,” sebutnya.
Misalnya, dalam pembuatan veneer atau mahkota gigi (crown) dengan teknologi ini, gigi penyangga yang sudah dikecilkan oleh dokter gigi, ukurannya akan sesuai dengan gigi yang dicetak. ”Akurasinya tinggi sekali. Bentuknya sesuai pesanan,” tegasnya.
Contoh lain, ia membandingkan teknologi sebelumnya yang menggunakan PFM (Porcelain Fused to Metal), Jenis gigi tiruan yang menggabungkan porselen dan logam dalam pembuatan mahkota gigi dan jembatan gigi (bright), itu butuh ketebalan 1,2 – 1,5 millimeter (mm), sedangkan dengan bahan zirconia hanya butuh 0,5-0,7mm. Ketebalannya minimal.
Sehingga, preparasi gigi penyangga minimal. Pasien pun tidak akan merasa ngilu berlebihan saat dilakukan preparasi.
”Kelebihan zirconia tidak ada metal, dan dokter hanya melakukan preparasi minimal,” jelasnya.
Bahan metal pada gigi tiruan cekat PFM, apakah bisa menghitam seiring waktu? ”Nggak. Nggak akan berubah warna. Memang dari awal warna metalnya kadang terbayang keluar, terlabih di daerah cervical (batas antara gigi dan gusi),” jelas Budi.
Jenis Gigi Tiruan Cekatan
Cip Budiyanto mengatakan bahwa untuk sementara ini jenis gigi tiruan cekat yang bisa dikerjakan dengan teknologi CAD/CAM (Computer-Aided Design and Computer-Aided Manufacturing) ada empat; yaitu veneer, crown, bright, dan inlay-onlay.
Jenis ini digunakan untuk memperbaiki atau menggantikan gigi yang rusak, patah, atau hilang, dan dipasang secara permanen pada gigi penyangga atau pada gigi yang ada.
Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang masing-masing jenis:
Veneer:
Veneer adalah lapisan tipis yang ditempelkan di bagian labial/bukal gigi untuk memperbaiki penampilan, seperti mengatasi gigi yang patah, retak, atau perubahan warna yang kurang bagus.
Crown:
Crown (mahkota gigi) adalah selubung yang ditempatkan di atas gigi yang rusak atau patah untuk melindungi dan memperbaiki fungsi gigi.
Bridge:
Bridge (jembatan gigi) digunakan untuk menggantikan gigi yang hilang dengan cara menopang gigi palsu di antara gigi penyangga (gigi di samping gigi yang hilang).
Inlay dan Onlay:
Inlay dan onlay adalah restorasi yang dibuat secara khusus di laboratorium dan ditempatkan di dalam atau di atas bagian gigi yang rusak. Inlay mengisi kerusakan di bagian dalam gigi, sedangkan onlay menutupi bagian gigi yang lebih luas.
”Untuk implant kami masih belajar,” pungkasnya. (***)
Reporter : YUSUF HIDAYAT
Editor : MUHAMMAD NUR