Buka konten ini
Anambas (BP) – Yayasan Anambas Foundation berkomitmen untuk meningkatkan ekosistem secara menyeluruh di Kabupaten Anambas, baik di bawah laut maupun di daratan. Selain itu, Anambas Foundation juga berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan warga setempat secara berkelanjutan.
Berbagai program yang telah dijalankan Anambas Foundation, antara lain konservasi hutan yang melibatkan kelompok tani untuk menanam campuran pohon keras dan buah, sebagai upaya memulihkan lahan sekaligus menciptakan peluang ekonomi masa depan bagi masyarakat.
”Salah satu momen yang paling membahagiakan adalah melihat bibit kami mencapai tingkat keberhasilan 80 persen. Ini adalah bukti dedikasi kami bersama petani yang merawat pohon-pohon ini setiap hari,” ujar Manager Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Anambas Foundation, Ricky Soerapoetra, Rabu (23/4).
Anambas Foundation juga melaksanakan program konservasi laut yang berfokus pada pemantauan kesehatan terumbu karang, rehabilitasi terumbu karang, adopsi terumbu karang, batik & ecoprint mangrove, dan konservasi penyu.
”Pada tahun 2024, kami melakukan pemantauan di 32 lokasi dari lima pulau. Namun, dalam pemantauan kami, terjadi pemutihan terumbu karang di semua lokasi seperti Kiabu, Telaga, Mengkait, Sunggak, dan Bawah. Tutupan karang dan biomassa ikan karang terus menurun setiap tahun, menandakan perlunya langkah-langkah konservasi yang lebih besar,” terang Ricky.
Ricky menguraikan tonggak pencapaian penting pada tahun 2024 dalam rehabilitasi terumbu karang, antara lain 500 unit terumbu karang buatan telah terpasang, terdapat 1.000 meter area terumbu karang yang telah direhabilitasi, dan 9.500 fragmen karang ditanam dengan tingkat kelangsungan hidup melebihi 81,76 persen.
Selamatkan 31.287 Tukik Sepanjang 2024
Untuk konservasi penyu, Anambas Foundation bekerja sama dengan masyarakat lokal telah menyelamatkan 593 sarang dan memindahkan 56.522 telur ke area yang lebih aman di Keramut, Impol, dan Sunggak.
”Sebagai hasilnya, 31.287 tukik atau anak penyu berhasil mencapai laut dengan selamat sepanjang 2024. Sementara itu, 64 penyu laut diberikan tag atau penanda logam,” kata Ricky.
Selain di sektor hutan dan laut, pengelolaan sampah juga menjadi perhatian utama Anambas Foundation. Menurut Ricky, masyarakat yang tinggal di pesisir pantai sering membuang sampah langsung ke laut, yang menyebabkan pencemaran.
”Kami membangun sistem pengelolaan sampah terpadu untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah. Sampah tidak hanya dianggap limbah, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tegas Ricky.
Salah satu sistem pengelolaan sampah terpadu yang diterapkan adalah Bank Sampah Keliling yang ada di sejumlah desa. Melalui Bank Sampah ini, Anambas Foundation berhasil menampung 21 ton sampah dari rumah tangga dan bisnis lokal, sehingga sampah tidak menumpuk di lingkungan.
”Terinspirasi dari konsep bank tabungan, kami mendorong warga untuk memilah sampah, lalu menyetorkannya ke bank sampah dan mereka akan mendapatkan uang sebagai imbalannya,” tuturnya.
Ricky menambahkan bahwa pihaknya juga memiliki program pemberdayaan perempuan untuk mendorong ibu rumah tangga agar mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan yang produktif.
”Seperti di Air Nangak, kami mengadakan pelatihan seni ecoprint yang memungkinkan mereka mengubah bahan alami menjadi produk kain unik sekaligus mempromosikan pelestarian mangrove,” kata Ricky.
Hasil dari pelatihan ini, para ibu rumah tangga berhasil memproduksi 10 contoh ecoprint yang kemudian dipamerkan di Festival Padang Melang dan Tanjungpinang.
”Kami juga mendorong ibu rumah tangga untuk bertani di rumah dengan memanfaatkan pekarangan yang ada dan mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos. Alhamdulillah, mayoritas menanam sayuran,” ungkap Ricky.
Selama tahun 2024, Anambas Foundation telah menggelontorkan dana sebesar Rp3,2 miliar untuk menjalankan seluruh program peningkatan ekosistem, yang mencakup konservasi hutan, konservasi laut, dan pembinaan masyarakat.
Sedangkan untuk operasional mereka menghabiskan dana sebesar Rp2,4 miliar. ”Seluruh keuangan kami bersumber dari donatur. Pada tahun 2024, jumlah dana yang terkumpul mencapai Rp10,2 miliar,” ungkap Ricky.
Menurut Ricky, model keuangan mereka memungkinkan untuk memaksimalkan sumber daya untuk kegiatan di lapangan, sambil tetap menjaga transparansi dan akuntabilitas penuh.
”Kami tetap berkomitmen untuk menggunakan setiap donasi secara efisien, guna mendorong dampak yang berarti bagi Kabupaten Anambas,” tutup Ricky. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI