Buka konten ini

Novelis dan esais
Sejak perempuan didomestifikasi, berbagai upaya untuk mengontrolnya terus dilakukan, terutama lewat kekerasan. Ironisnya, sebagai salah satu persoalan perempuan dengan dampak paling merusak, kekerasan terhadap perempuan seolah tak terlihat dan tak terdengar.
Di bawah naungan ideologi patriarki, ia bersembunyi di balik pintu kamar dan rumah. Di belakang kata ”cinta” dan ”sayang”. Hingga pada suatu hari, tubuh seorang perempuan malang ditemukan di dalam koper.
Zaman Kegelapan
”Betapa mengherankan cinta itu; dia adalah sorga dan sekaligus neraka itu juga.” Demikianlah Kartini menulis pandangannya tentang cinta dalam sepucuk surat kepada M.C.E Ovink-Soerb, Agustus 1900.
Pemikiran itu berasal dari pengalamannya sendiri. Atas nama cinta, sang ayah menempatkan Kartini dalam penjara pingitan. Atas nama cinta, sang suami menaruh Kartini dalam sangkar emas poligami. Dalam usia belia, Kartini telah merasakan beratnya hidup sebagai perempuan korban kekerasan psikis.
Berbicara tentang kekerasan terhadap perempuan berarti berbicara tentang struktur sosial patriarki. Apa yang perlu ditilik adalah mengapa kekerasan semacam itu masih terjadi. Penyebabnya bukan semata masalah penegakan hukum yang masih tumpul terhadap pelaku. Bukan pula masalah kurangnya pengetahuan atau kesadaran para penyintas atas hak-haknya sehingga enggan melapor.
Lebih dalam dari semua itu, ada efek dominasi maskulin yang tidak hanya masih mengakar kuat dalam struktur masyarakat kita, tetapi juga dikekalkan melalui budaya, agama, ekonomi, hingga bahasa.
Banyak berita tentang kasus kekerasan terhadap perempuan yang tersiar belakangan ini. Kekejian yang ditimpakan kepada para perempuan itu tiada jauh berbeda dengan apa yang dialami Hypatia pada zaman Mesir Kuno. Di tengah zaman teknologi yang mengagungkan kesetaraan, perempuan masih mengalami diskriminasi dan kekerasan. Dunia seolah tidak pernah menjadi tempat yang aman bagi perempuan.
Hal serupa dialami perempuan yang dianggap penyihir pada Abad Pertengahan. Sebagaimana diulas Silvia Federici dalam bukunya, Perempuan dan Perburuan Penyihir, para pemuka agama yang berperan sebagai inkuisitor memburu perempuan yang dianggap
”makhluk neraka, teroris, pemakan manusia, hamba iblis yang dengan liar terbang mengendarai sapu di atas langit”.
Dengan semua kekerasan yang mengancam semacam itu, bisa dikatakan perempuan seolah masih hidup di zaman kegelapan. Padahal, Kartini pernah memiliki optimisme bahwa di ujung gelap pasti akan terbit terang.
Strategi Dominasi
”Kekerasan muncul sebagai respons ketika identitas maskulin terancam,” ungkap Jonathan Rutherford dalam Male Order. Dengan kata lain, ”Kekerasan adalah sebuah upaya untuk menghancurkan apa yang disebut Roland Barthes sebagai skandal liyan.
Lewat motif para pelaku, apa yang dinyatakan Jonathan Rutherford menemukan kontekstualitasnya. Bahwa sebagian besar kekerasan terhadap perempuan terjadi karena laki-laki merasa maskulinitasnya terancam. Baik gara-gara perasaan rendah diri, perintahnya tidak dipatuhi, takut dikhianati, hingga ketidakmampuan ekonomi. Lewat kasus-kasus semacam itu, cahaya kediktatoran laki-laki sebagai manusia absolut kian terpancar kuat, yang menegaskan posisinya dalam relasi antargender.
Perempuan memang tidak lagi dikurung dalam sangkar. Tetapi, posisinya tetap subordinat. Perempuan juga masih dipandang sebagai objek, terlepas dari sehebat apa pun dirinya. Dengan kata lain, apa yang ada di dalam diri perempuan hanyalah pinjaman dari masyarakat: status, kecantikan, nilai moral, hingga dosa-dosanya. Konstruksi simbolis bahkan membuat perempuan mudah dianggap tiada berbeda dengan baju dalam koper, atau seonggok daging dalam baskom, atau barang yang bisa dibuang jika tidak berguna.
Kini, kesadaran gender memang telah meningkat. Mirisnya, perlakuan keji terhadap perempuan juga meningkat. Seruan moral kepada negara agar melindungi perempuan akan sia-sia jika struktur masyarakat belum berubah. Inilah tanda bahaya yang wajib diwaspadai oleh setiap perempuan. Untuk itu, kita memerlukan keoptimisan Kartini dalam dosis tinggi, mengingat bahwa kesetaraan yang diperoleh perempuan zaman sekarang ternyata tidak bisa melindunginya dari kekerasan laki-laki, bahkan di ruang privatnya sendiri. (*)