Buka konten ini

Fakultas Kedokteran (FK) UIN Walisongo Semarang menjadi sorotan publik karena menyandang status satu-satunya FK yang dilengkapi wahana stem cell untuk riset kanker.
Rabu pagi itu, matahari Semarang menyinari bangunan Kampus III UIN Walisongo dengan hangat. Di dalam Auditorium II yang megah, para akademisi, mahasiswa, dan tamu undangan mulai memadati ruang acara. Ada semacam getar antusias yang menggantung di udara.
Hari itu, 9 April 2025, kampus ini genap berusia 55 tahun. Sidang Senat Terbuka Dies Natalis pun digelar dengan penuh khidmat. Tapi bukan hanya usia yang dirayakan, melainkan juga sebuah kabar besar: UIN Walisongo resmi membuka Fakultas Kedokteran (FK).
Fakultas ini bukan FK biasa. Ia berdiri dengan fasilitas yang tak banyak dimiliki bahkan oleh kampus umum: laboratorium riset kanker berbasis stem cell.
Sontak, tepuk tangan membahana. Wajah para dosen menegang bahagia. Para mahasiswa tersenyum penuh harap. Sebuah babak baru dibuka di kampus keagamaan ini.
Namun di balik euforia itu, ada langkah-langkah diam yang ditempuh selama berbulan-bulan. Bahkan, bertahun-tahun.
Dan satu nama disebut berkali-kali: Romo R. Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama.
Romo bukan dokter. Ia tak berkutat dengan stetoskop atau mikroskop. Tapi sejak lama, ia percaya bahwa kampus Islam tak seharusnya membatasi diri hanya pada studi-studi keagamaan.
“Kita ingin kampus Islam menjadi pusat peradaban baru. Tempat ilmu agama dan ilmu dunia bertemu, bersinergi,” katanya suatu kali, dalam pertemuan dengan pejabat Kemenag.
Maka saat UIN Walisongo menyampaikan niat membuka Fakultas Kedokteran, Romo tak sekadar menyambut. Ia mengawal langsung.
Ia ikut hadir dalam pertemuan strategis dengan tokoh-tokoh penting: Mendikti Saintek Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Wakil Mendikti Prof. Fauzan, hingga Sekjen Togar M. Simatupang. Di meja itu, ia menyuarakan pentingnya membuka ruang lebih luas bagi PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) untuk menapaki bidang-bidang sains terapan-termasuk kedokteran.
“Ikhtiar ini bukan sekadar soal kampus,” ujar Romo. “Ini soal peradaban.”
Dari Jambi ke Semarang
UIN Jambi menjadi jejak awal. Beberapa tahun lalu, kampus itu berhasil membuka FK. Langkahnya mulus, meski tak mudah. Pengalaman itulah yang menjadi bekal ketika UIN Walisongo menyusul.
Setelah serangkaian tahapan administratif dan peninjauan, izin resmi pun diterbitkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Nomor 193/B/O/2025.
Rektor UIN Walisongo, Prof. Nizar, menyebutnya sebagai “kado ulang tahun yang paling indah.” Tapi ia tahu betul, kado itu tak datang tiba-tiba.
“Tanpa dukungan Romo Syafi’i, mungkin proses ini tak secepat ini. Beliau benar-benar hadir, sejak awal,” ujarnya usai sidang senat.
Romo tak pernah menyembunyikan keyakinannya bahwa Indonesia bisa mencapai kejayaan pada 2045—saat negara ini genap 100 tahun merdeka. Tapi menurutnya, itu tak akan terjadi bila bangsa ini lemah di bidang kesehatan dan pendidikan.
Visi besar Presiden Prabowo Subianto soal kemandirian nasional di bidang kesehatan, menurut Romo, harus ditopang oleh institusi pendidikan yang kuat. Maka pendirian FK di kampus keagamaan, baginya, adalah langkah simbolik sekaligus strategis.
“Insya Allah, ini bagian dari ikhtiar mencetak generasi yang sehat jasmani, kuat rohani, dan cerdas intelektual,” katanya.
Fakultas dengan Stem Cell
Yang membuat FK UIN Walisongo menonjol bukan cuma statusnya di bawah kampus Islam. Tapi juga karena keberadaan stem cell research center—wahana penelitian canggih yang bisa membuka jalan bagi terapi kanker dan regenerasi jaringan.
Fasilitas ini menjadikan UIN Walisongo bukan hanya tempat pendidikan, tapi juga pusat riset medis.
Di masa depan, mungkin lulusan FK dari kampus ini akan menjadi pionir peneliti Muslim di bidang kanker. Mungkin dari sinilah, terapi stem cell berbasis kearifan lokal akan lahir.
Batu demi Batu
Sejarah kadang dibentuk oleh gebrakan besar. Tapi lebih sering, ia disusun oleh langkah-langkah kecil, sunyi, dan penuh kesabaran. Romo Syafi’i mungkin tak banyak muncul di layar televisi. Tapi di balik layar, ia menyusun batu demi batu peradaban.
Dan ketika FK UIN Walisongo akhirnya berdiri tegak, lengkap dengan pusat riset mutakhirnya, itu bukan sekadar keberhasilan satu kampus. Tapi juga buah dari mimpi panjang: tentang Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya dari pesantren, dari kampus Islam, dari mereka yang percaya bahwa iman dan ilmu tak pernah bertentangan. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR