Buka konten ini
Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi menolak rencana Presiden AS, Donald Trump untuk mengambil alih Gaza, seperti dilaporkan kantor berita Xinhua pada Jumat (7/3).
Dia mengatakan bahwa Tiongkok mendukung rencana untuk memulihkan perdamaian di Gaza yang diinisiasi Mesir dan negara-negara Arab lainnya.
“Gaza milik rakyat Palestina dan merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina,” kata Wang dalam konferensi pers pada sidang legislatif tahunan Tiongkok dilansir Antara.
Dia menekankan bahwa setiap perubahan paksa terhadap status Gaza hanya akan menciptakan “kekacauan baru.” Wang mendesak masyarakat internasional untuk mendorong gencatan damai yang langgeng, meningkatkan bantuan kemanusiaan, dan menegakkan prinsip “rakyat Palestina mengatur Palestina.”
Dia menegaskan kembali dukungan Tiongkok terhadap negara Palestina dan solusi dua negara sebagai landasan penyelesaian konflik di Timur Tengah. “Semua faksi Palestina perlu melaksanakan Deklarasi Beijing untuk mencapai persatuan dan penguatan diri,” kata Wang.
Dia juga menyerukan upaya global untuk mempromosikan perdamaian antara Palestina dan Israel. Tiongkok akan “terus berjuang demi keadilan, perdamaian, dan pembangunan bagi rakyat di Timur Tengah,” katanya.
Sementara itu, Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas, menuduh Israel berupaya menghindari kewajibannya dalam kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. “Jalan pintas menuju stabilitas kawasan adalah memaksa Israel mematuhi ketentuan (gencatan senjata) yang telah mereka teken,” kata juru bicara Al Qassam, Abu Ubaida, dalam siaran televisi yang dikutip Anadolu pada Jumat (7/3).
Dia menuduh pemimpin Israel Benjamin Netanyahu lebih mementingkan kepentingan politiknya daripada nasib para sandera.
Ubaida menambahkan bahwa faksi-faksi Palestina telah menghormati kesepakatan gencatan senjata itu, yang diberlakukan pada 19 Januari, termasuk pertukaran tahanan. “Apa pun yang gagal dicapai Israel dalam perang, tak akan diperoleh lewat ancaman dan penipuan,” kata dia.
Ubaida menegaskan bahwa pasukannya memiliki kemampuan untuk menyerang Israel jika konflik berlanjut. Dia juga menyebut ancaman-ancaman Israel sebagai “tanda kelemahan dan kehinaan.”
Mediator gencatan senjata Gaza juga terus berupaya mendesak Israel melakukan perundingan tahap kedua perjanjian, demikian ungkap kelompok perlawanan Hamas pada Kamis (6/3).
“Para mediator (Mesir, Qatar, dan AS) terus melakukan kontak untuk memastikan pelaksanaan fase-fase tersisa dari kesepakatan gencatan senjata dan memaksa pendudukan untuk memulai negosiasi untuk tahap kedua kesepakatan tersebut,” sebut pernyataan Juru bicara Hamas Hazem Qaseem.
“Hamas tetap dengan komitmennya atas semua tahap perjanjian, dan berharap kontak yang dilakukan mediator akan mengarah pada penerapan seluruh tahap perjanjian oleh pendudukan Israel,” tambahnya. (***)
Reporter : JP Group
Editor : andriani susilawati