Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik yang mengarah ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Arab Saudi, Sabtu (19/7). Jika laporan tersebut terkonfirmasi, aksi itu menjadi serangan langsung pertama Teheran ke wilayah Arab Saudi dalam hampir empat bulan terakhir.
Mengutip laporan Axios yang mengutip seorang pejabat AS, rudal tersebut diarahkan ke pangkalan militer Amerika di Arab Saudi. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pemerintah Amerika Serikat, Arab Saudi maupun Iran mengenai lokasi pasti sasaran maupun dampak serangan tersebut.
Serangan terbaru itu menandai kembali memanasnya konflik antara Washington dan Teheran setelah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan dilaporkan runtuh. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran konflik akan meluas ke kawasan Teluk dan mengganggu stabilitas jalur perdagangan energi dunia.
Ketegangan juga kembali berpusat di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia. Jika eskalasi terus berlanjut, distribusi energi global dikhawatirkan ikut terganggu.
Perkembangan terbaru tersebut terjadi hanya berselang sehari setelah dua personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas dan seorang lainnya hilang akibat serangan rudal balistik dan pesawat nirawak yang disebut dilancarkan Iran di Yordania, Jumat (17/7) waktu setempat.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut dua prajurit gugur ketika pasukan AS dan mitranya mempertahankan diri dari serangan rudal balistik dan drone Iran.
“Dua anggota layanan AS di Yordania tewas ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) dan pasukan mitra membela diri terhadap serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak Iran. Selain itu, satu anggota layanan saat ini hilang,” demikian pernyataan CENTCOM.
CENTCOM belum mengungkap identitas korban maupun lokasi rinci serangan. Informasi tersebut, menurut mereka, baru akan disampaikan setelah keluarga korban menerima pemberitahuan resmi.
Jika data tersebut dikonfirmasi, jumlah personel militer AS yang tewas dalam konflik terbaru dengan Iran bertambah menjadi 16 orang. Sebelumnya, seorang pilot Angkatan Laut AS yang sempat dinyatakan hilang juga dipastikan meninggal dunia.
Trump Perintahkan Serangan Balasan
Sebagai respons atas serangan tersebut, Presiden Donald Trump memerintahkan militer Amerika kembali melancarkan gelombang serangan udara ke sejumlah target di Iran. Operasi itu menjadi serangan kedelapan berturut-turut yang dilakukan Washington sejak konflik kembali memanas.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz sekaligus membalas serangan terhadap pasukan AS di Yordania.
“Serangan ini dirancang untuk semakin melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz serta menghukum pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) yang melancarkan serangan terhadap personel militer Amerika di Yordania,” demikian pernyataan CENTCOM.
Serangan terbaru dilakukan setelah gencatan senjata awal yang dicapai kedua negara pada Juni lalu dilaporkan runtuh. Presiden Donald Trump sebelumnya juga menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir pada 8 Juli.
Iran Tangguhkan MoU
Di tengah meningkatnya eskalasi, Iran menyatakan nota kesepahaman (MoU) Islamabad dengan Amerika Serikat secara efektif ditangguhkan. Teheran menilai Washington lebih dahulu melanggar seluruh komitmen dalam kesepakatan tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan negaranya menghentikan seluruh pelaksanaan MoU karena Amerika Serikat dianggap mengabaikan isi perjanjian.
“Amerika Serikat telah melanggar seluruh komitmennya dalam kerangka MoU Islamabad. Karena itu kami juga menangguhkan pelaksanaan seluruh komitmen kami,” katanya seperti dikutip kantor berita semi-resmi Fars.
Pemerintah Iran juga mengklaim rangkaian serangan udara Amerika Serikat sejak 6 Juli telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai lebih dari 500 orang. Selain itu, sejumlah fasilitas infrastruktur, termasuk instalasi desalinasi air, disebut mengalami kerusakan sehingga ribuan warga kehilangan akses air bersih.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan negaranya tidak menginginkan perang dan menyebut seluruh tindakan militer yang dilakukan Iran merupakan bentuk pembelaan diri.
Iran Balas Tuduhan AS
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, juga menuding Amerika Serikat sengaja memperbesar konflik melalui rangkaian serangan udara yang terus dilakukan.
Menurut Khamenei, tindakan Washington menunjukkan bahwa komitmen pemerintah AS tidak dapat dipercaya.
“Pelanggaran berulang Amerika telah memperlihatkan satu kenyataan mendasar bahwa tanda tangan presiden AS sama sekali tidak memiliki kredibilitas,” ujarnya.
Khamenei juga memperingatkan bahwa Iran telah menyiapkan “pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan” bagi Amerika Serikat apabila serangan terus berlanjut.
Sementara itu, mengutip BBC, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim berhasil menghancurkan sedikitnya dua pesawat tempur Amerika di Pangkalan Udara Al-Azraq, Yordania. Namun hingga kini CENTCOM belum mengonfirmasi maupun membantah klaim tersebut.
Militer Yordania juga menyatakan telah mencegat sedikitnya 10 rudal yang memasuki wilayah udaranya pada malam sebelumnya. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat intersepsi tersebut.
Tiongkok dan Pakistan Serukan Perdamaian
Di tengah memanasnya situasi, Tiongkok dan Pakistan kembali menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Dalam pertemuan di Shanghai, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar mendesak seluruh pihak menghentikan aksi militer, memulihkan komunikasi, serta kembali ke meja perundingan.
Wang Yi mengatakan nota kesepahaman (MoU) tahap pertama antara Amerika Serikat dan Iran merupakan hasil diplomasi yang tidak mudah dicapai sehingga seluruh pihak seharusnya menghormati komitmen yang telah disepakati.
“Semua pihak harus menghormati komitmen mereka dan mematuhi ketentuan dalam MoU. Tiongkok akan terus mendukung upaya mediasi Pakistan dan memainkan peran konstruktif untuk membantu meredakan situasi,” ujarnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK
