Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, menegaskan perang terhadap bandar dan pengedar narkoba di seluruh Indonesia. Instruksi itu disampaikan menyusul gugurnya anggota Polri, Aipda Yudhie Perdana Putra, saat memimpin penangkapan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Kapolri meminta seluruh jajaran tidak ragu mengambil tindakan tegas dan terukur terhadap bandar maupun gembong narkoba yang melakukan perlawanan hingga membahayakan petugas maupun masyarakat.
“Saya minta seluruh jajaran untuk terus menyatakan perang melawan narkoba dan meningkatkan pemberantasan narkoba yang membahayakan masyarakat dan generasi muda kita,” kata Sigit kepada wartawan, Jumat (3/7).
“Dan lakukan tindakan tegas terukur terhadap bandar atau gembong narkoba yang melawan upaya penegakan hukum, apalagi membahayakan jiwa petugas atau masyarakat,” lanjutnya.
Menurut Sigit, peredaran narkoba menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Karena itu, para bandar dan pengedar harus diberantas agar tidak semakin banyak generasi muda yang menjadi korban.
“Mereka adalah penghancur generasi yang harus diberantas untuk menyelamatkan masyarakat dari dampak bahaya narkoba yang bisa merusak generasi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Pasca-insiden tersebut, Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri langsung mengerahkan personel untuk membackup Polres Katingan dalam penanganan kasus sekaligus memburu pelaku penyerangan.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Aipda Yudhie saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkotika.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra yang gugur saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkotika,” katanya.
Selain memperkuat penegakan hukum, Bareskrim juga membantu pencarian dua anggota Satresnarkoba Polres Katingan yang hingga kini masih belum ditemukan, yakni Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana.
“Kami akan melakukan back up penuh terhadap jajaran di lapangan, baik dalam proses pencarian anggota yang masih belum ditemukan, pengamanan wilayah, maupun pengungkapan tuntas jaringan narkotika dan pelaku penyerangan terhadap anggota Polri,” ujar Eko.
Eko menjelaskan, operasi bermula dari laporan masyarakat. Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang residivis kasus narkotika berinisial BIO.
“Dalam insiden tersebut, Aipda Yudhie ditemukan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam,” ujarnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : FISKA JUANDA