Buka konten ini

PHILADELPHIA (BP) – Entraineur Prancis, Didier Deschamps, merasakan deja vu menjelang laga krusial babak 16 besar Piala Dunia 2026 kontra Paraguay di Lincoln Financial Field, Philadelphia, dini hari nanti (Siaran langsung TVRI Nasional / TVRI Sport pukul 04.00 WIB).
Bagaimana tidak, memori 28 tahun silam langsung berputar kembali. Di fase yang sama pada Piala Dunia 1998, Deschamps yang kala itu bertindak sebagai kapten Les Bleus, harus bersusah payah meredam militansi Paraguay di Stade Felix-Bollaert (sekarang Stade Bollaert-Delelis), Lens. Prancis yang bertindak sebagai tuan rumah kala itu dipaksa menemui jalan buntu, sebelum akhirnya diselamatkan oleh gol emas (golden goal) Laurent Blanc pada menit ke-114 babak perpanjangan waktu.
Dilansir dari RMC Sport, Deschamps mengingatkan anak asuhnya bahwa drama di Stade Felix-Bollaert bisa saja terulang. Apalagi, Los Guaranies –julukan Paraguay– tengah berada dalam puncak kepercayaan diri usai menjungkirbalikkan prediksi dengan menyingkirkan juara dunia empat kali, Jerman, di babak 32 besar lewat drama adu penalti (4-3).
“Saya mengamati permainan mereka, dan sukses mereka menembus fase ini bukanlah sebuah kebetulan. Paraguay telah mengirimkan sinyal bahaya yang nyata bagi kami,” ujar pria yang akrab disapa Didi itu.
Gaya Main Serupa
Deschamps menilai kerangka tim Paraguay di bawah asuhan pelatih saat ini memiliki DNA permainan yang identik dengan angkatan 1998. Mereka cenderung bermain defensif, disiplin merapatkan barisan, dan sangat mematikan dalam skema serangan balik.
“Mereka adalah representasi tim khas Amerika Latin: tangguh dalam duel satu lawan satu dan memiliki kegigihan luar biasa. Tidak ada tim yang melangkah ke babak 16 besar hanya karena faktor keberuntungan,” tutur Deschamps.
Di kubu seberang, atmosfer optimistis ditiupkan oleh gelandang serang Paraguay, Julio Enciso. Ia bertekad melanjutkan tren kejutan demi memulangkan sang juara bertahan.
“Kami tidak gentar menghadapi siapa pun. Jika Jerman saja bisa kami lewati, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak bisa melakukan hal yang sama terhadap Prancis,” koar pemain yang kini diplot memainkan peran false nine tersebut kepada ABC.
Chila dalam Bidikan Gill
Nama besar Jose Luis Chilavert sebagai kiper legendaris Paraguay di pentas Piala Dunia kini mulai dibayangi oleh portero masa kini, Orlando Gill. Sepanjang penampilannya di Piala Dunia 1998 dan 2002, Chilavert tercatat tampil 7 kali dengan rekor kebobolan 7 gol, 2 kali clean sheet, dan mengemas 26 penyelamatan.
Statistik tersebut kini berada dalam jangkauan Orlando Gill. Sepanjang turnamen Piala Dunia 2026 bergulir, Gill sudah membukukan 19 kali penyelamatan. Mengingat lini serang Prancis dikenal sangat agresif, Gill berpeluang besar mengejar defisit 7 penyelamatan lagi untuk menyamai rekor sang legenda.
“Saya akan memberikan segalanya di Piala Dunia ini,” cetus kiper San Lorenzo berusia 26 tahun tersebut kepada Diario AS.
Ketangguhan di bawah mistar sekaligus menjadi jawaban elegan Gill terhadap berbagai kritik tajam yang sempat dilontarkan Chilavert kepadanya di media.
Sarung Tangan Rp898 Ribu
Pahlawan kemenangan Paraguay atas Jerman ini punya cerita menyentuh. Saat mematahkan eksekusi penalti dua penggawa Jerman, Kai Havertz dan Nick Woltemade, Gill ternyata hanya mengenakan sarung tangan cadangan seharga USD 50 atau berkisar Rp 898 ribu.
Sarung tangan utama dan memorabilia terbaiknya—termasuk jersi dan sepatu bola kesayangan—telah lunas dilelang pada September 2025 demi membiayai pengobatan sang buah hati, Lautaro Daniel, yang sempat kritis.
“Dia menjual seluruh barang berharganya tanpa memikirkan kenang-kenangan masa depan. Anak kami berjuang untuk hidupnya, dan ayahnya selalu bertarung di sisinya,” tulis Melissa Avalos, istri Gill, dalam unggahan emosional di akun Instagram pribadinya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR