Buka konten ini

Ada yang harus berpindah dari satu tempat terapi ke tempat lain, mencari informasi tanpa henti, hingga berhadapan dengan stigma yang masih hidup di tengah masyarakat. Namun di balik segala tantangan itu, selalu ada harapan yang mereka perjuangkan setiap hari, agar anak-anak mereka mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan.
BAGI sebagian orangtua, perjalanan membesarkan anak autistik sering kali dimulai dengan kebingungan. Ada yang harus berpindah dari satu tempat terapi ke tempat lain, mencari informasi tanpa henti, hingga berhadapan dengan stigma yang masih hidup di tengah masyarakat. Satu perjuangan yang diinginkan, selalu ada harapan agar anak-anak mereka mendapat kesempatan belajar dan meraih masa depan.
Harapan itulah yang menjadi ruh dalam Indonesia Autism Summit 2026 (INAS26) yang digelar di Harmoni One Hotel Batam, Kamis (11/6). Selama tiga hari, hingga 13 Juni mendatang, forum internasional ini mempertemukan orang tua, akademisi, tenaga kesehatan, terapis, guru, pembuat kebijakan, hingga komunitas autisme dalam satu tujuan yang sama: menciptakan kehidupan yang lebih inklusif bagi individu autistik.
Tahun demi tahun, kesadaran masyarakat terhadap autisme memang terus meningkat. Namun bagi banyak keluarga, pemahaman saja belum cukup.
Masih ada anak-anak yang kesulitan mendapatkan layanan yang sesuai. Masih ada remaja autistik yang harus berjuang lebih keras untuk diterima di lingkungan sosial. Dan masih banyak individu autistik yang menghadapi berbagai hambatan saat memasuki dunia pendidikan maupun dunia kerja.
Karena itulah, tema ”Menggerakkan Kesadaran Autisme Menjadi Aksi Nyata” dipilih dalam penyelenggaraan INAS26 tahun ini.
Direktur PT Penawar Special Learning sekaligus Ketua INAS26, Dr. Ruwinah Abdul Karim, mengatakan masyarakat perlu bergerak melampaui sekadar memahami autisme. Yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh individu autistik dan keluarganya.
”Kesadaran saja tidak cukup. Kita perlu bergerak menuju tindakan nyata dan perubahan yang dapat dirasakan oleh orang tua, guru, dan masyarakat. Ketika masyarakat memahami sebelum menilai, dan para pemimpin membuka akses yang setara bagi semua pihak, di situlah kesetaraan dapat terwujud,” ujarnya.
Menurut Ruwinah, individu autistik tidak hidup dalam ruang yang terpisah. Mereka tumbuh di tengah keluarga, belajar di sekolah, berinteraksi di lingkungan sekitar, dan suatu hari akan memasuki dunia kerja seperti masyarakat pada umumnya.
Karena itu, dukungan tidak boleh berhenti di ruang terapi semata.
Dukungan harus hadir di rumah, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, dan di ruang-ruang publik tempat mereka menjalani kehidupan sehari-hari.
”Individu autistik tidak hanya berada di pusat layanan. Mereka tumbuh di tengah keluarga, belajar di sekolah, berinteraksi di masyarakat, dan kelak menjadi bagian dari dunia kerja. Karena itu, dukungan harus hadir di semua lingkungan tersebut,” katanya.
Harapan untuk membangun dukungan yang lebih luas itulah yang terus diupayakan PT Penawar Special Learning. Saat ini lembaga tersebut telah memiliki 20 cabang di Indonesia, termasuk tiga cabang di Batam, yang berfungsi sebagai ruang pendampingan bagi keluarga sekaligus tempat tumbuh bagi individu autistik.
Selama penyelenggaraan INAS26, berbagai kegiatan digelar untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Mulai dari konferensi ilmiah, diskusi multidisiplin, lokakarya praktis, konsultasi dengan para spesialis, hingga pameran produk dan layanan terkait autisme.
Yang menarik, forum ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi langsung dengan individu neurodivergen. Sebuah langkah sederhana yang sering kali mampu menghapus prasangka dan menggantikannya dengan pemahaman.
Sebab, inklusi sejatinya tidak lahir dari teori semata. Inklusi tumbuh ketika masyarakat bersedia mengenal, mendengar, dan memahami pengalaman hidup orang lain.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan. Menurutnya, salah satu tantangan besar yang kini perlu mendapat perhatian adalah akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa autistik.
Saat ini semakin banyak individu autistik yang mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Namun perjalanan mereka sering kali tidak mudah.
Hambatan yang dihadapi bukan semata-mata soal kemampuan akademik. Tantangan justru muncul dalam bentuk adaptasi lingkungan, interaksi sosial, akses layanan pendampingan, hingga kesiapan institusi pendidikan dalam menerima keberagaman.
”Perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi lingkungan yang inklusif dan ramah terhadap neurodiversitas. Mahasiswa autistik memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi dan mengembangkan potensinya,” ujar Hendri.
Menurutnya, selama ini banyak orang keliru memandang autisme sebagai hambatan utama. Padahal, sering kali yang menjadi penghalang justru lingkungan yang belum sepenuhnya siap menerima perbedaan.
Ketika kampus menyediakan dukungan yang memadai, dosen memahami kebutuhan mahasiswanya, teman sebaya bersikap terbuka, dan teknologi dimanfaatkan secara optimal, individu autistik memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berprestasi.
Lebih jauh, Hendri meyakini bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif tidak hanya menguntungkan mahasiswa autistik. Kampus yang terbuka terhadap keberagaman justru akan melahirkan lulusan yang lebih kreatif, lebih adaptif, dan lebih siap menghadapi dunia yang semakin kompleks.
”Yang terpenting bukan hanya menerima kehadiran mahasiswa autistik di kampus, tetapi memastikan mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat,” katanya.
Meski demikian, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan masih cukup besar. Keterbatasan data, layanan pendukung, jumlah tenaga ahli, hingga pemahaman masyarakat masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
Karena itu, forum seperti INAS26 menjadi lebih dari sekadar konferensi. Ia menjadi ruang bertemunya harapan, pengalaman, ilmu pengetahuan, dan komitmen untuk menciptakan perubahan.
Di balik setiap diskusi yang berlangsung, ada orang tua yang berharap anaknya dapat diterima di sekolah. Ada remaja autistik yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa diskriminasi. Ada individu dewasa yang berharap memperoleh kesempatan bekerja sesuai kemampuan mereka.
Pada akhirnya, perjuangan mewujudkan masyarakat inklusif bukan hanya tentang autisme. Ini adalah tentang bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan warganya yang paling rentan.
Sebab setiap individu, apa pun kondisi dan cara mereka memandang dunia, memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, bekerja, dan mengambil bagian dalam kehidupan.
Dan ketika kesempatan itu benar-benar diberikan, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu memberi kontribusi berarti bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO