Buka konten ini

Warga di pulau-pulau terluar Batam akhirnya tak lagi harus memandang perayaan Iduladha dari kejauhan. Melalui program sebar hewan kurban wilayah 3T, LAZ Batam Kepri mengirimkan hewan kurban hingga ke pulau-pulau terpencil yang sulit dijangkau. Tidak hanya daging segar, sebagian kurban bahkan diolah menjadi rendang agar lebih mudah dinikmati masyarakat pesisir dan suku laut.
PAGI itu, aroma daging segar bercampur hiruk-pikuk relawan memenuhi halaman penyembelihan hewan kurban di Batam Center, Kota Batam, Rabu (27/5). Di bawah terik matahari, sejumlah relawan tampak sibuk memotong, menimbang, lalu memasukkan daging ke dalam kantong-kantong besar sebelum diberangkatkan menuju pulau-pulau hinterland.
Sebagian daging itu akan menempuh perjalanan laut berjam-jam. Menembus ombak dan angin laut demi sampai ke tangan warga di wilayah terdepan dan terluar Batam.
Di momentum Iduladha 1447 Hijriah tahun ini, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam Kepri kembali menyalurkan ratusan hewan kurban kepada masyarakat Kota Batam dan kawasan kepulauan. Tema “Sebar Hewan Kurban untuk Wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar)” sengaja diusung agar distribusi kurban benar-benar menjangkau masyarakat yang selama ini kesulitan menikmati daging kurban.
Ketua LAZ Batam Kepri, Syarifuddin, mengatakan distribusi hewan kurban sudah dilakukan sejak H-1 Iduladha. Sejumlah pulau seperti Pulau Petong, Pulau Abang, Kampung Baru, Pulau Air, Pulau Mengkada hingga Pulau Seraya menjadi sasaran penyaluran tahun ini.
“Wilayah-wilayah ini memang membutuhkan perhatian lebih karena akses mereka terhadap daging kurban masih terbatas,” ujarnya di sela kegiatan penyembelihan.
Tak hanya menyalurkan hewan hidup, LAZ Batam Kepri juga membagikan daging segar hasil penyembelihan di Batam. Pada Rabu itu, tiga ekor sapi dipotong untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah pulau terpencil.
Namun yang paling menarik, sebagian daging kurban justru diolah menjadi rendang dan makanan siap santap. Cara itu dipilih bukan tanpa alasan.
Bagi warga suku laut atau masyarakat di pulau terpencil seperti Pulau Caros, mengolah daging mentah bukan perkara mudah. Harga bumbu masakan dan ongkos transportasi laut membuat daging kurban terkadang sulit dimanfaatkan secara maksimal.
“Kalau mereka harus ke Batam hanya untuk membeli bumbu, ongkosnya bisa sampai Rp50 ribu pulang pergi. Jadi kami olah menjadi rendang supaya lebih bermanfaat dan langsung bisa dinikmati,” kata Syarifuddin.
Konsep distribusi kurban seperti itu, menurut dia, dibuat agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat kepulauan.
Di pulau-pulau kecil itu, kehadiran hewan kurban menjadi kebahagiaan tersendiri. Ketua RT di Pulau Petong, Roni, mengaku warganya sangat terbantu dengan program tersebut.
Menurut dia, akses menuju Batam tidak mudah. Warga harus menempuh perjalanan laut cukup jauh dengan kondisi ombak yang kerap besar.
“Kami masyarakat Batam yang paling terluar. Untuk ke Batam sangat jauh dan harus melewati ombak besar. Dengan adanya hewan kurban ini, kami merasa sangat terbantu bisa menikmati daging segar saat Iduladha,” ujarnya.
Syarifuddin kembali menyambung, hingga saat ini pihaknya masih terus menerima amanah hewan kurban dari para donatur. Jumlah total hewan kurban tahun ini diperkirakan mencapai ratusan ekor dan berpotensi meningkat dibanding tahun lalu.
Pada Iduladha tahun sebelumnya, LAZ Batam Kepri menerima sekitar 20 ekor sapi dan 200 ekor kambing. Tahun ini, jumlah tersebut diperkirakan bertambah seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat dan para donatur.
Bahkan, sejumlah jamaah dari Singapura dijadwalkan turut menyalurkan hewan kurban melalui LAZ Batam Kepri pada Sabtu (30/5) mendatang.
Bagi LAZ Batam Kepri, perjalanan menembus laut menuju pulau-pulau kecil bukan sekadar mengantar daging kurban. Lebih dari itu, mereka ingin memastikan kebahagiaan Iduladha juga dirasakan masyarakat yang tinggal jauh dari keramaian kota.
“Harapannya saudara-saudara kita di wilayah 3T juga bisa menikmati daging kurban dan merasakan kebahagiaan Iduladha bersama,” tutup Syarifuddin. (***)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK