Buka konten ini

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta; Dokter Spesialis Anak di RS Panti Rapih; Alumnus S-3 UGM
HARI Kesehatan Dunia diperingati setiap 7 April untuk menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 7 April 1948. Kali pertama diperingati pada 1950, hari istimewa itu bertujuan menyoroti isu kesehatan global utama seperti kesehatan mental, ibu-anak, dan perubahan iklim serta mendorong kesadaran masyarakat. Apa yang menarik?
Hari Kesehatan Dunia menyeru kepada semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tema ’’Together for health. Stand with science’’ (Bersama untuk kesehatan. Berdiri bersama sains), peringatan kali ini meluncurkan kampanye selama setahun untuk mendorong kolaborasi ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan planet ini.
One Health
Kampanye bertujuan mendorong pemerintah, ilmuwan, dokter, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat untuk, pertama, berdiri bersama sains melalui keterlibatan dengan bukti, fakta, serta panduan berbasis sains untuk melindungi kesehatan. Kedua, membangun kembali kepercayaan pada sains dan kesehatan masyarakat. Ketiga, mendukung solusi berbasis sains untuk masa depan yang lebih sehat melalui pendekatan one health alias kesehatan terpadu.
Konsep one health umumnya dikaitkan dengan karya Calvin Schwabe dari Universitas California, AS, sejak 1960-an. One health adalah metode terpadu yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan untuk mencegah penyakit, khususnya zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Metode itu melibatkan kolaborasi berbagai sektor untuk mengoptimalkan keseimbangan kesehatan tiga komponen tersebut.
One health berfokus pada pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit zoonosis. Sains memainkan peran penting dalam deteksi patogen, surveilans epidemiologi, penelitian vaksin, dan studi molekuler pada manusia maupun hewan. Kolaborasi multisektoral dalam one health melibatkan dokter, ahli kesehatan masyarakat, dokter hewan, ahli ekologi, serta pihak terkait lain.
Pentingnya menyertakan lingkungan pada pendekatan one health adalah menekankan bahwa kesehatan manusia dan hewan sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Pendekatan itu krusial untuk mengatasi ancaman kesehatan yang kompleks pada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.
Peran sains amat krusial dalam one health. Pertama, menjadi penyedia bukti dan teknologi deteksi zoonosis serta kekebalan antimikroba (AMR), terutama ilmu pengetahuan di bidang kedokteran hewan dan mikrobiologi. Sain juga sangat berperan dalam mendeteksi virus, memantau spillover (perpindahan) patogen dari hewan ke manusia, serta menganalisis resistansi antibiotik pada ekosistem yang berbeda.
Kedua, dalam intervensi lingkungan dan sosial ekologis, sains membantu merancang intervensi yang disesuaikan dengan konteks sosial-ekologis. Misalnya, pengelolaan hama terpadu untuk keamanan pangan dan perlindungan lingkungan.
Ketiga, kolaborasi lintas disiplin dengan menyatukan para ahli dari berbagai bidang, termasuk dokter, dokter hewan, ahli ekologi, antropolog, dan ilmuwan sosial, untuk memecahkan masalah sistemik yang kompleks.
Keempat, jembatan antara sains dan kebijakan dimungkinkan karena platform ilmiah menyediakan data yang valid bagi pembuat kebijakan kesehatan guna mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, terutama dalam manajemen pandemi.
Inovasi Teknologi
Peran itu memastikan bahwa pendekatan one health tidak hanya berbasis teori, tetapi didukung bukti ilmiah yang kuat untuk menciptakan kesehatan global yang berkelanjutan.
Selain itu, sains berperan krusial dalam kedokteran sebagai fondasi pengembangan metode diagnostik, pengobatan, serta pencegahan penyakit melalui pendekatan biologi, kimia, dan fisika medik. Itu mencakup inovasi teknologi seperti alat pencitraan medis, penemuan obat baru, vaksin, teknologi AI/data science untuk deteksi dini, hingga robotika bedah.
AI dan data science memungkinkan analisis data medis (rekam medis, pemeriksaan pencitraan, maupun laboratorium klinik) untuk diagnosis yang lebih akurat dan personalisasi pengobatan (precision medicine). Sains juga berperan dalam pengembangan obat dan vaksin. Ilmu kimia dan biologi medik berperan dalam meneliti serta menciptakan terapi baru yang efektif, termasuk penanganan penyakit kronis, kanker, dan virus baru seperti Covid-19.
Teknologi medis hasil sains mutakhir juga sangat bermanfaat, terutama dalam penggunaan fisika medik dan robotika. Sains juga berperan dalam proses pencegahan serta manajemen kesehatan melalui analisis data epidemiologi untuk memahami persebaran penyakit dan memanfaatkan perangkat yang tersedia (wearable devices) untuk deteksi dini pasien secara real-time.
Bahkan, sains berperan pada efisiensi layanan kesehatan. Sebab, sains dapat mengolah data dan mengoptimalkan operasional rumah sakit. Mulai manajemen logistik obat hingga meminimalkan kesalahan diagnosis.
Momentum Hari Kesehatan Dunia 2026 mengingatkan semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Sains mampu mengubah pendekatan kesehatan dari sekadar pengobatan menjadi pencegahan yang proaktif serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui inovasi berkelanjutan. Apakah kita sudah bijak? (*)