Buka konten ini
BATAM KOTA (BP) – Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam memastikan nama Simpang Pantek di Kecamatan Bengkong akan segera diganti. Pergantian ini menjadi bagian dari langkah besar penataan nama-nama simpang di seluruh wilayah Batam agar lebih selaras dengan nilai budaya Melayu serta identitas kota sebagai Bandar Dunia Madani.
Ketua LAM Kota Batam, Raja Muhamad Amin, mengatakan pihaknya tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi akan melakukan penelusuran menyeluruh terhadap nama-nama simpang di setiap kecamatan yang dinilai tidak pantas atau tidak sesuai.
“Kita tidak hanya ganti di Bengkong saja. Semua kecamatan akan kita lihat. Nama-nama yang tidak layak itu akan diganti dengan nama yang baru,” ujarnya, Jumat (10/4).
Ia menjelaskan, proses pergantian nama saat ini masih berada pada tahap pengumpulan usulan. LAM Kota Batam juga telah meminta seluruh LAM di tingkat kecamatan untuk berkoordinasi dengan pihak kecamatan masing-masing guna membahas nama pengganti yang tepat.
“Saya minta LAM kecamatan, khususnya Bengkong, berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk pergantian nama simpang itu,” katanya.
Menurut Raja, langkah ini dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak agar nama yang dihasilkan tidak hanya baik secara makna, tetapi juga dapat diterima masyarakat luas. Saat ini, tim di masing-masing kecamatan tengah mengidentifikasi titik-titik yang perlu dilakukan perubahan.
“Tim sedang bekerja di semua kecamatan. Bengkong ini hanya sebagai contoh awal,” ujarnya.
Meski demikian, jumlah pasti simpang yang akan diganti masih dalam proses pendataan. LAM menargetkan seluruh wilayah dapat terpetakan terlebih dahulu sebelum penetapan nama baru dilakukan secara resmi.
Raja menegaskan, ada dua alasan utama di balik rencana pergantian nama tersebut, yakni menghadirkan penamaan yang lebih baik dan tidak menimbulkan makna negatif, serta menyesuaikannya dengan jati diri Batam sebagai daerah berakar budaya Melayu.
“Kita ingin memberikan nama yang baik, kemudian menyesuaikan dengan bumi Melayu.
Nama itu harus sesuai dengan tempatnya,” jelasnya.
Ia menilai, sebagai kota dengan julukan Bandar Dunia Madani, Batam sudah seharusnya memiliki penamaan wilayah yang mencerminkan nilai, etika, dan kearifan lokal.
“Batam ini Bandar Dunia Madani. Tidak layak kalau nama tempat tidak sesuai dengan itu,” tegasnya.
Selain Simpang Pantek, Raja juga menyinggung sejumlah nama simpang lain yang selama ini dikenal masyarakat dengan sebutan tidak resmi, seperti Simpang Pollux Habibie yang lebih dikenal sebagai Simpang Frangky.
“Contoh seperti di Pollux Habibie, orang taunya Simpang Frangky. Itu juga akan kita ganti,” katanya.
Ia mengaku telah bertemu dengan pihak terkait, termasuk tokoh yang namanya digunakan sebagai sebutan simpang tersebut, untuk membahas rencana penyesuaian nama.
Tidak hanya simpang, LAM juga mendorong penamaan bundaran di Batam agar menggunakan nama yang lebih baik, bermakna, dan mencerminkan identitas daerah.
“Nama bundaran juga sudah saya sampaikan ke Pak Wali Kota, agar diberikan nama yang baik dan sesuai. Nama itu kan doa,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, LAM akan merumuskan nama-nama pengganti berdasarkan masukan yang telah dihimpun. Hasilnya kemudian akan dikomunikasikan dengan pemerintah daerah dan pihak terkait sebelum diluncurkan secara resmi kepada masyarakat.
“Kalau sudah ada nama pengganti, akan kita komunikasikan dengan semua pihak.
Insyaallah akan kita launching supaya masyarakat tahu,” kata Raja.
Ia menambahkan, pergantian nama ini tidak dimaksudkan untuk menghapus sejarah, melainkan mengarahkan penamaan ke nilai yang lebih baik tanpa menghilangkan jejak yang telah ada.
“Jangan sampai menghilangkan sejarah. Misalnya dari nama lama bisa diarahkan ke nama tokoh Melayu, supaya orang juga tahu,” ujarnya.
Selain perubahan di lapangan, LAM juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk penyesuaian data digital, termasuk pada peta daring seperti Google Maps.
“Bukan hanya di papan nama jalan, tapi juga di pemetaan Google. Nanti akan kita sesuaikan agar nama yang muncul itu sesuai,” tuturnya. (*)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO