Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia bebas sampah dalam dua hingga tiga tahun ke depan dengan memperkuat proyek pengolahan sampah menjadi energi melalui pembentukan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera). Perusahaan ini disiapkan sebagai motor penggerak program waste to energy (WtE) nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Prabowo menegaskan, pemerintah telah memiliki strategi berbasis teknologi dalam negeri yang dikembangkan oleh anak bangsa. Pendekatan ini dinilai lebih efisien sekaligus mampu mempercepat penyelesaian persoalan sampah di berbagai daerah.
“Kampus-kampus sekarang harus bekerja dan mereka sudah bekerja. Kita punya teknologi untuk membersihkan sampah, buatan kita sendiri. Dalam waktu dua sampai tiga tahun, sampah seluruh Indonesia akan kita selesaikan,” ujar Prabowo dalam taklimat di Istana Negara, Rabu (8/4).
Ia optimistis persoalan sampah yang selama ini menjadi beban nasional dapat segera dituntaskan secara menyeluruh.
“Tidak akan ada kota, jalan, atau bagian Indonesia yang bau karena sampah, dari Sabang sampai Merauke,” tegasnya.
Selain fokus pada pengelolaan sampah, Prabowo juga melihat situasi geopolitik global sebagai peluang untuk mempercepat kemandirian energi nasional. Ia mendorong pengembangan energi terbarukan berbasis sumber daya domestik.
“Krisis dunia ini bagi saya adalah peluang. Ini mempercepat kita untuk fokus. Energi kita harus terbarukan dan berasal dari Indonesia sendiri,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, pemerintah mempercepat implementasi program WtE di berbagai kota besar sebagai solusi jangka panjang. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan energi listrik yang bernilai ekonomi.
Dalam pertemuan di Hambalang, Bogor, akhir Maret lalu, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih membahas langkah strategis penanganan sampah nasional. Hadir di antaranya Menteri Investasi Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Teddy menyampaikan implementasi WtE difokuskan di kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Bali.
“Program waste to energy menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus memenuhi kebutuhan energi nasional,” ujarnya.
Prabowo, lanjut Teddy, menginginkan pengelolaan sampah tidak berhenti pada penanganan, tetapi juga memberikan nilai tambah sebagai sumber energi.
“Presiden menginginkan sampah yang selama ini tidak tertangani dapat segera dibersihkan dan dimanfaatkan menjadi energi,” tegasnya.
Sebagai bagian dari percepatan program tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) membentuk PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) pada 1 April 2026. Mengutip dari ANTARA, Perusahaan ini akan fokus menggarap proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) sekaligus menjadi operator terintegrasi dalam pengelolaan sampah nasional.
Denera akan memegang porsi saham dalam setiap proyek PSEL dengan komposisi 70 persen untuk mitra Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) dan 30 persen untuk Denera. Selain itu, perusahaan juga bertanggung jawab terhadap operasional proyek secara menyeluruh.
Direktur di Danantara Investment Management (DIM), Fadli Rahman, menjelaskan setiap pembangunan satu unit PSEL membutuhkan investasi sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun. Ia menekankan bahwa proyek ini tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Pengelolaan sampah yang terintegrasi menjadi fokus utama, termasuk edukasi masyarakat agar budaya pengelolaan sampah dapat berubah,” ujarnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK