Buka konten ini

PERNAH merasa ingin terus mengunyah sesuatu meski perut sebenarnya masih kenyang? Kondisi ini kerap membuat seseorang tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan ngemil berlebihan.
Keinginan mengonsumsi camilan seperti keripik atau cokelat ternyata tidak selalu dipicu rasa lapar. Ada sejumlah faktor ilmiah yang memengaruhi dorongan tersebut.
Dilansir dari Real Simple, berikut beberapa alasan yang membuat seseorang sulit menahan keinginan untuk ngemil.
Pertama, faktor emosional. Saat stres, jenuh, atau suasana hati tidak stabil, banyak orang cenderung mencari pelampiasan melalui makanan. Kondisi ini dikenal sebagai emotional eating, yang dipicu oleh peningkatan hormon kortisol sehingga tubuh menginginkan makanan manis atau berlemak untuk memberi efek nyaman sementara.
Kedua, kurang tidur. Kebiasaan begadang dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh. Hormon ghrelin yang merangsang rasa lapar meningkat, sementara hormon leptin yang memberi sinyal kenyang justru menurun. Akibatnya, keinginan untuk makan pun menjadi lebih besar.
Ketiga, tubuh sebenarnya hanya haus. Rasa haus dan lapar sering kali sulit dibedakan karena sinyal yang dikirim ke otak hampir serupa. Karena itu, sebelum mengambil camilan, disarankan untuk minum air putih terlebih dahulu guna memastikan kebutuhan cairan terpenuhi.
Keempat, ketersediaan camilan yang mudah dijangkau. Menaruh makanan ringan di tempat yang terlihat jelas, seperti meja kerja atau dapur, dapat memicu keinginan makan secara impulsif, meskipun sebelumnya sudah makan cukup.
Kelima, pola makan utama yang kurang seimbang. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat tanpa diimbangi protein dan serat dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang tidak stabil. Kondisi ini membuat rasa lapar kembali muncul lebih cepat meski baru saja makan.
Memahami berbagai penyebab tersebut dapat membantu mengendalikan kebiasaan ngemil, sekaligus menjaga pola makan tetap lebih sehat dan seimbang. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO