Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP sederajat pada hari pertama mendapat penilaian positif dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Ujian tersebut berlangsung tertib dengan partisipasi hampir 1,9 juta siswa di seluruh Indonesia.
Meski demikian, PGRI mengingatkan bahwa hasil TKA tidak seharusnya berhenti pada angka semata, melainkan harus dimanfaatkan sebagai pijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Sekretaris Jenderal PB PGRI, Dudung Abdul Qodir, menilai kelancaran pelaksanaan TKA menunjukkan kesiapan yang matang dari berbagai sisi. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, sekolah, dan orang tua dalam menciptakan suasana yang mendukung bagi peserta didik.
“Kolaborasi semua pihak sangat diperlukan agar siswa memiliki kesiapan mental dan moral dalam mengikuti TKA,” ujarnya.
Ia menegaskan, TKA merupakan instrumen penting dalam mengevaluasi capaian pembelajaran, khususnya dalam aspek akademik, literasi, dan numerasi. Oleh karena itu, hasilnya harus benar-benar dimanfaatkan untuk memperbaiki sistem pendidikan ke depan.
Data menunjukkan, meski tidak bersifat wajib, jumlah peserta TKA SMP tahun 2026 mencapai 4.207.516 siswa atau sekitar 98 persen dari total populasi siswa SMP/MTs sederajat.
Berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 1.899.878 siswa telah mengikuti TKA pada hari pertama, Senin (6/4). Pelaksanaan berlangsung serentak mulai pukul 07.00 WIB hingga 15.30 WIB, terbagi dalam empat sesi.
Rinciannya, sesi pertama diikuti 700.532 peserta, sesi kedua 675.330 peserta, sesi ketiga 419.391 peserta, dan sesi keempat 104.625 peserta.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menyampaikan apresiasi atas kelancaran hari pertama pelaksanaan TKA. Ia menyebut keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari sekolah hingga tim teknis di pusat dan daerah.
“Antusiasme tinggi dari siswa, sekolah, dan orang tua menjadi sinyal positif bahwa transformasi digital dalam evaluasi pendidikan semakin diterima,” jelasnya.
Ia menambahkan, Kemendikdasmen telah menyiapkan berbagai opsi jadwal pelaksanaan yang fleksibel, sehingga sekolah dapat menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Hal ini diharapkan membuat siswa lebih nyaman dan percaya diri saat mengikuti asesmen.
Bagi peserta yang berhalangan hadir, khususnya akibat bencana atau kondisi darurat lainnya, pemerintah menyediakan jadwal TKA susulan pada Mei 2025 agar seluruh siswa tetap mendapatkan kesempatan yang sama.
Toni juga mengapresiasi dukungan dari pemerintah daerah, satuan pendidikan, orang tua, serta peserta didik dalam menyukseskan pelaksanaan TKA.
“Keberhasilan ini tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pusat, tetapi juga strategi di tingkat sekolah. Kolaborasi menjadi kunci utama,” pungkasnya. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO