Buka konten ini

BEIJING (BP) – Tiongkok semakin memperkuat ambisinya sebagai kekuatan dominan dalam energi terbarukan global melalui percepatan pembangunan tenaga angin lepas pantai. Strategi ini muncul seiring tekanan global untuk menurunkan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus menempatkan negara itu di garis depan kompetisi global transisi energi bersih.
Dalam kerangka Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), pembangunan infrastruktur angin lepas pantai ditetapkan sebagai prioritas utama. Sebagai langkah awal, Tiongkok berencana membangun pangkalan energi di Laut Bohai, Laut Kuning, Laut Tiongkok Timur, dan Laut Tiongkok Selatan, sambil mengembangkan wilayah laut dalam dan jauh secara bertahap. Target kapasitas terpasang yang tersambung ke jaringan listrik nasional dipatok melebihi 100 juta kilowatt pada akhir periode tersebut.
Sejalan dengan itu, pejabat department of new energy and renewable energy NEA menyatakan, langkah selanjutnya adalah menguatkan dukungan kebijakan untuk eksplorasi tenaga angin laut dalam dan jauh, mendorong perkembangan tenaga angin lepas pantai yang terstandarisasi dan teratur, serta memprioritaskan pembangunan sejumlah proyek besar, seperti dikutip Global Times, Selasa (7/4).
Bukti nyata dari strategi ini terlihat di Provinsi Hainan, di mana turbin dengan hub setinggi 139,4 meter dan panjang baling-baling 118 meter mulai beroperasi di ladang angin lepas pantai Qiyuan, yang dikelola Longyuan Power di bawah China Energy Investment Corp.
Turbin tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari 1,5 miliar kWh listrik bersih per tahun, setara penghematan 467.000 ton batubara dan pengurangan 1,271 juta ton CO2.
Selain itu, Tiongkok mencatat rekor dunia baru dengan turbin berkapasitas 20 MW yang kini terhubung ke jaringan listrik di Provinsi Fujian. Menurut Interesting Engineering, turbin ini adalah unit tunggal terbesar secara komersial di dunia dan dapat mensuplai listrik bagi lebih dari 44.000 rumah tangga setiap tahun.
Data NEA menunjukkan bahwa hingga Februari 2026, total kapasitas wind power Tiongkok mencapai 650 juta kilowatt, naik 22,8 persen secara tahunan.
Sementara itu, kapasitas angin lepas pantai yang tersambung ke jaringan listrik telah melebihi 47 juta kilowatt. Angka ini menegaskan posisi Tiongkok sebagai pemimpin global selama lima tahun berturut-turut.
Dampak industri juga terasa signifikan. Transformasi ini memicu terbentuknya klaster industri di wilayah pesisir, mulai dari manufaktur turbin, peralatan pendukung, konstruksi, hingga operasi dan pemeliharaan.
Misalnya, di Yancheng, Jiangsu, kapasitas perakitan turbin lepas pantai mencapai 40 persen dari total nasional, sedangkan produksi baling-baling 20 persen.
Di Shantou, Guangdong, otoritas mengeksplorasi integrasi energi angin dengan produksi hidrogen dan amonia, menandai pendekatan inovatif dalam pemanfaatan energi terbarukan.
Dari perspektif global, dominasi Tiongkok dalam energi angin lepas pantai, ditambah penurunan biaya teknologi turbin, mendorong percepatan transisi energi bersih di Asia Pasifik. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY