Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon memicu sorotan serius dari DPR. Komisi I DPR RI bahkan membuka opsi penarikan pasukan Indonesia dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh.
Tiga prajurit yang gugur tersebut adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Mayor Infanteri (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar. Mereka meninggal dalam dua insiden berbeda di Lebanon Selatan pada 29 dan 30 Maret 2026.
Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh menegaskan, peristiwa tersebut bukan insiden biasa dan harus ditangani secara serius oleh pemerintah.
“Ini bukan sekadar insiden biasa. Gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian adalah persoalan serius yang harus menjadi perhatian khusus negara,” ujarnya, Selasa (7/4).
Ia mendorong agar pemerintah segera membahas kasus ini secara khusus bersama Komisi I DPR RI. Dalam pembahasan tersebut, berbagai opsi kebijakan akan dikaji, termasuk kemungkinan penarikan pasukan dari UNIFIL.
“Salah satunya kemungkinan penarikan seluruh prajurit TNI dari misi UNIFIL. Penugasan ini harus dievaluasi secara serius,” tegasnya.
Legislator Fraksi PKB itu juga menilai, serangan yang diduga melibatkan pihak Israel menjadi peringatan keras bagi Indonesia dalam keterlibatannya di misi perdamaian internasional. Ia menyebut insiden ini sebagai tamparan yang harus direspons dengan evaluasi menyeluruh.
Menurutnya, risiko terhadap keselamatan prajurit harus menjadi pertimbangan utama sebelum pemerintah memutuskan keterlibatan dalam misi di wilayah konflik aktif.
“Ke depan, pemerintah harus benar-benar memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan prajurit sebelum memutuskan keterlibatan dalam misi perdamaian,” pungkasnya.
Diketahui, Farizal Rhomadhon gugur akibat serangan artileri di dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3). Sementara Muhammad Nur Ichwan dan Zulmi Aditya Iskandar meninggal akibat ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan pada Senin (30/3).
Peristiwa tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan yang telah menelan ribuan korban jiwa. Situasi ini turut memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasukan penjaga perdamaian, termasuk kontingen TNI yang bertugas di bawah mandat PBB. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK