Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pencapaian akademik Agatha Chelsea mencuri perhatian. Dalam satu siklus pendaftaran, ia langsung diterima di empat program pascasarjana dari kampus-kampus top dunia. Hasil yang terbilang mulus. Tapi, siapa sangka, di balik itu sempat ada rasa ragu.
Chelsea mengaku tidak memasang target tinggi saat mendaftar ke dua kampus impiannya: Harvard Graduate School of Education dan Teachers College Columbia University. Baginya, dua nama besar itu terasa cukup “mengintimidasi”.
“Dua universitas itu sangat intimidating. Jadi saya tidak berharap banyak. Saya juga daftar ke dua kampus lain untuk memperbesar peluang,” ujarnya.
Strategi itu justru berbuah manis. Tak hanya Harvard dan Columbia, Chelsea juga diterima di New York University dan National University of Singapore. Empat-empatnya tembus.
Kini, ia masih menimbang pilihan. Bukan perkara mudah. Masing-masing kampus menawarkan pendekatan dan fokus studi yang berbeda.
Sebelumnya, Chelsea merampungkan studi sarjana di University of Melbourne. Ia mengambil jurusan neuroscience dan psikologi. Namun, selepas lulus, ia tidak langsung lanjut S2. Ia memilih bekerja lebih dulu.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Pengalaman profesional justru membantunya menemukan arah riset yang ingin digeluti.
Ke depan, Chelsea ingin mendalami irisan antara neuroscience, teknologi, dan pendidikan. Ia berharap ilmu yang didapat tidak berhenti di ruang akademik, tetapi bisa diterapkan di Indonesia.
“Pengalaman kerja memberi perspektif dunia nyata. Saya jadi lebih paham pertanyaan apa yang ingin saya eksplorasi,” katanya.
Langkah itu sejalan dengan inisiatif yang ia rintis lewat platform NewronEdu. Fokusnya pada konsep brain-based learning, menjembatani ilmu otak dengan praktik pendidikan.
Bagi Chelsea, pendekatan berbasis sains penting agar pelajar bisa menemukan cara belajar yang lebih efektif—dan relevan dengan tantangan zaman.
Chelsea mulai dikenal publik sejak mengikuti ajang pencarian bakat Idola Cilik pada 2008. Sejak itu, kariernya berkembang di dunia hiburan. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO