Buka konten ini

Akademisi Universitas Riau Kepulauan dan Peneliti Veritas Research and Consulting
Foto: copilot
SATU tahun satu bulan telah berlalu sejak Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra mengemban amanah ganda: menakhodai Pemerintah Kota sekaligus Badan Pengusahaan (BP) Batam. Di sebuah kota yang tumbuh dari deru mesin dan pancang beton, publik terbiasa bertanya tentang proyek fisik apa yang telah berdiri tegak. Namun, setahun ini, duet ini justru memilih jalan yang tak lazim bagi penganut paham populis.
Dalam diskursus politik, kita mengenal performance legitimacy—sebuah kecenderungan pemimpin untuk memamerkan proyek mercusuar demi simpati instan. Narasi ”dulu jalan ini rusak, sekarang mulus” memang ampuh menyihir mata, namun sering kali rapuh di akar. Amsakar-Claudia justru memilih ”jalan sunyi” yang menantang: membenahi sistem yang selama ini beroperasi di ruang abu-abu.
Perubahan paling radikal terasa pada tata kelola lahan. Alih-alih mengalokasikan lahan sebagai komoditas politik atau pendapatan instan, mereka memilih ”puasa” alokasi tanah guna memperbaiki mekanisme pengalokasian lahan berbasis sistem yaitu Land Management System (LMS) bersama Universitas Indonesia. Ini adalah upaya mematikan celah gelap birokrasi. Mereka sedang membangun rumah dari fondasinya, bukan sekadar mengecat fasadnya agar tampak indah dari luar.
Upaya ”pembersihan” ini diperkuat dengan terbitnya PP 25, 28, dan 47 Tahun 2025. Regulasi ini bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan senjata untuk mengakhiri tumpang tindih kewenangan yang puluhan tahun menghantui Batam. Kepastian hukum inilah ”gula” sesungguhnya bagi investor dunia, jauh lebih manis daripada sekadar janji manis di atas podium.
Investasi Manusia, Bukan Sekadar Beton
Pembangunan sejati tidak berhenti pada aspal yang hitam, melainkan pada kualitas hidup manusia yang melintas di atasnya. Fokus kepemimpinan setahun terakhir ini bergeser secara signifikan ke arah pembangunan manusia (SDM).
Kebijakan bantuan pendidikan dan beasiswa perguruan tinggi yang kian diperluas adalah bukti keberpihakan jangka panjang. Amsakar-Claudia sedang menyiapkan putra-putri terbaik Batam—termasuk dari wilayah hinterland—agar kelak mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemilik sah masa depan kota ini.
Hasilnya mulai tampak pada angka-angka yang berbicara:
Kemiskinan: Merosot tajam dari 4,85% di 2024 menjadi 3,8% di 2025.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM): Melompat dari 82.64 menjadi 83.80 di 2025.
Loncatan IPM ini mencakup akses kesehatan yang lebih baik melalui jaminan kesehatan daerah dan bantuan sosial lansia. Bagi pemilik modal, tingginya IPM adalah indikator bahwa Batam adalah kota yang stabil dan matang.
Batam kini sedang bertransformasi dari sekadar kawasan industri menjadi sebuah ekosistem yang berjiwa. Perbaikan sistem memastikan pemerintahan yang bersih dan dipercaya, sementara investasi pendidikan memastikan keberlanjutan.
Kepemimpinan Amsakar-Claudia dalam satu tahun ini adalah pesan kuat bagi kita semua: bahwa membangun kota tidak harus selalu dengan gegap gempita fisik yang kasat mata, melainkan dengan memperbaiki nurani sistem dan mencerdaskan kehidupan bangsanya. Batam sedang menanam akar agar pohon pembangunannya tak tumbang diterjang badai ketidakpastian global. (*)